Tanaman-Tanaman di Apartemen Ibu
Kami tinggal di balkon kecil apartemen ibu.
Balkonnya sempit, nyempil di antara dua tembok, dan kalau angin kencang, rasanya seperti sedang diuji kesetiaan pada pot masing-masing.
Tapi ibu tetap memaksa kami hidup di sini.
“Biar ada hijau-hijaunya sedikit,” katanya waktu pertama kali menanam kami.
Sedikit.
Padahal sekarang balkon ini lebih mirip hutan mini yang saban hari disemprot air seperti ritual pagi.
Kami tidak sombong, tapi ya, kami tahu kami membawa kebahagiaan kecil.
Ibu sering membuka pintu balkon, memandangi kami sambil menghela napas panjang.
Kadang dia diam saja, kadang dia ngomel sendiri.
Tapi kami tahu — itu saat dia butuh diam di antara dunia yang terlalu berisik.
Aku tanaman berdaun panjang di pojok kanan.
Aku yang paling tinggi di antara kami, jadi otomatis jadi semacam “penyaring sinar matahari” untuk yang lain.
Di bawahku, ada bunga kecil berwarna merah terang — sombong tapi manis, suka bilang, “aku paling cantik di sini.”
Padahal dia cuma keluar bunga dua kali sebulan.
Tapi kami biarkan saja, karena semangatnya menular.
Di sebelah kiri ada tanaman hijau belang yang suka panik setiap kali daun bawahnya menguning.
“Ya ampun, aku sakit gak sih?” katanya hampir setiap minggu.
Padahal cuma kurang kena cahaya.
Kami semua tahu dia dramatis, tapi tanpa dia, balkon ini gak serame sekarang.
Kadang kami iri sama tanaman yang di dalam ruang tamu.
Dia dapat Angin, pencahayaan bagus, dan sering jadi latar belakang video call.
Tapi kami juga tahu: di balik kemewahan itu, dia gak pernah kena angin sore.
Gak pernah tahu rasanya diayun lembut waktu hujan kecil datang.
Kasihan juga, hidupnya indah tapi datar.
Hari-hari kami sebenarnya sederhana.
Pagi disiram, siang dipanasin, sore diajak ngobrol sebentar.
Ibu kadang bilang,
“Maaf ya, tadi lupa nyiram.”
Kami gak pernah marah — kami tahu dia sibuk, dan rasa bersalahnya selalu diikuti dua semprotan ekstra air.
Kami tumbuh pelan-pelan.
Ada yang daunnya robek, ada yang patah karena angin.
Tapi ibu gak pernah buang kami.
Dia cuma potong bagian rusak dan bilang,
“Nanti tumbuh lagi, kan?”
Kalimat itu ajaib.
Itu semacam doa,
dan kami percaya doa manusia bisa bikin daun baru muncul lebih cepat.
Lucunya, kalau ibu lagi sedih, dia suka duduk lama di dekat kami.
Kadang gak ngomong apa-apa, cuma menatap.
Kami gak bisa bicara, tapi kami bisa mendengar — dalam cara daun bergetar pelan, dalam cara air menetes ke tanah.
Kami tahu: manusia juga butuh disiram.
Bukan pakai air, tapi perhatian kecil yang membuat mereka tumbuh lagi.
Sekarang, setiap pagi kami saling menatap dengan bangga.
Balkon kecil ini mungkin sempit, tapi rasanya luas.
Karena di sini, kami belajar bahagia bukan dari banyaknya ruang,
tapi dari seberapa sering kami diingat.
Dan kalaupun ibu kadang lupa menyiram, kami tahu alasannya bukan karena dia tak sayang —
tapi karena dia sedang berusaha tumbuh juga, sama seperti kami. 🌿☀️
Komentar
Posting Komentar