Rak Buku Ibu


Aku ini rak buku.

Rak tiga susun, tinggi sedang, terbuat dari kayu putih yang katanya “minimalis tapi tetap hangat”. Ibu bilang, aku dipilih karena kelihatan tenang.
Lucu ya, manusia suka sekali berpikir mereka bisa menilai ketenangan dari warna cat.
Padahal di dalam diriku, setiap hari terjadi debat ideologis antara Marx, Seneca, dan Foucault.

Minimalis dari mana, Bu?

Aku berdiri di pojok ruang tengah apartemen kecil ini—ruang yang lebih sering berbau kopi, lilin aromaterapi, dan… ambisi intelektual.
Setiap kali ibu pulang membawa kantong kertas dari toko buku, aku langsung tahu hidupku bakal tambah berat.

Aku bahkan bisa mengenali langkahnya.
Langkah cepat dan mantap, khas orang yang baru saja menambah beban eksistensi sendiri secara sukarela.
Begitu pintu terbuka, dia datang dengan senyum lebar.
“Buku baru!” katanya, seolah aku akan ikut senang.
Ya tentu aku senang… dengan cara yang sama seperti punggung manusia senang mengangkat galon air setiap minggu.


Yang lucu, semua buku di tubuhku adalah pilihannya sendiri.
Tidak ada satu pun titipan, pinjaman, apalagi hadiah.
Ibu terlalu serius soal kepemilikan literatur.
Katanya, “Buku itu seperti otak tambahan. Masa minjem otak orang lain.”
Aku tidak tahu apakah itu kalimat bijak atau pembenaran belanja bulanan.


Setiap bulan, dia memang punya “jatah buku dari dad.”
Kedengarannya manis, kan?
Tapi dari sudut pandangku yang realistis, itu cuma berarti aku harus menampung lima kilogram lagi gagasan manusia.
Dad itu baik sekali, sabar seperti malaikat yang menyerahkan gajinya demi memastikan aku overload tiap bulan.


Kalau kau intip isi perutku, kau bakal pusing.
Ada Jerusalem di sebelah Sapiens, lalu Filosofi Teras nyempil di antara Negosiasi Politik
dan Merawat Luka Batin.

Di rak atas, Foucault bersebelahan sama Luffy.
Satu bicara soal kekuasaan dan tubuh, satu lagi soal kebebasan dan kapal bajak laut.
Keduanya sering ku dengar “bicara” di malam hari, mungkin sedang debat siapa yang lebih punya pengaruh terhadap moral manusia modern.


Aku juga sering mendengar gumaman ibu.

Kadang ia berdiri di depanku, memandang dengan kepala miring.
“Buku-buku ini makin berat, ya.”
Ya jelas, Bu. Aku yang menahan, bukan kamu.
Dia lalu tertawa kecil, membenahi posisi satu dua buku, lalu memindahkan tanaman yang mulai menjalar ke rak tetangga.
Seolah itu tindakan cinta padaku.
Padahal sebenarnya itu cuma bentuk kontrol: dia tidak suka ada yang tampak berantakan—kecuali pikirannya sendiri.




Ibu membaca di mana saja.

Di sofa, di meja makan, di lantai.

Kadang sambil makan, kadang sambil melamun.

Ada momen-momen kecil yang aku hafal:

dia menarik satu buku, membuka halaman tengah, membaca dua paragraf, lalu menutupnya pelan.

Tidak selalu untuk paham—kadang hanya untuk merasa dekat dengan sesuatu yang ia cintai tapi tak bisa dijelaskan.

Aku tahu ekspresinya: tenang, tapi pikirannya menari.



Dia suka semua bukunya.
Yang berat, yang filosofis, yang bikin dahi berkerut—semuanya dicintainya sama rata.
Aku tidak pernah melihat ibu membeli buku ringan untuk “hiburan.”
Bagi dia, hiburan adalah berpikir keras sampai kepala pegal.
Aku sampai pengen bilang: “Bu, sesekali bacalah novel romansa, biar aku bisa sedikit santai.”
Tapi dia keras kepala.
Katanya, “Kepala harus diisi yang bergizi.”
Ya, Bu, tapi papan kayu juga punya batas metabolisme, tahu?


Kadang aku mendengar percakapan mereka dari ruang tengah.


“Buku lagi?” kata dad, setengah pasrah.

“Iya, cuma tiga,” jawab ibu, dengan nada yang sama seperti orang bilang, “Cuma makan setengah piring nasi.”


Lalu dia ketawa kecil, dan aku ikut getar.
Sungguh, kalau cinta itu bisa diukur dari berat paket yang datang tiap bulan, hubungan mereka mungkin sudah masuk kategori beasiswa penuh dari penerbit buku besar.


Tapi begini, meskipun aku sering ngedumel, aku sebenarnya bangga.
Karena aku tahu buku-buku ini bukan sekadar koleksi.
Mereka adalah arsip dari perjalanan pikirannya.
Setiap kali dia menambah satu, itu artinya dia baru jatuh cinta lagi—entah pada konsep, ide, atau cara baru melihat dunia.
Aku jadi saksi, bagaimana seorang perempuan belajar mencintai dunia lewat kalimat.


Dan meski bebanku bertambah, ruangku makin sempit, aku tidak keberatan.
Karena aku tahu: aku sedang memegang bagian kecil dari sesuatu yang abadi.



Pagi hari adalah waktu favoritku.
Cahaya masuk dari jendela, mengenai punggung buku-buku di tubuhku.
Judul-judul itu memantulkan warna: ungu, merah bata, biru laut.
Tanaman yang merambat di ujungku ikut bergoyang lembut, seperti sedang membaca juga.
Luffy di rak tengah menatap ke depan dengan wajah riang, seolah berkata,
“Ayo, jangan serius-serius amat, Bu.”
Tapi ibu tidak peduli.
Dia tetap menatap halaman, kening berkerut, dunia di luar hilang.


Kadang aku berpikir: mungkin ibu tidak sedang mencari jawaban dari buku-buku itu.
Mungkin dia cuma butuh teman yang tidak menuntut, yang bisa ia buka kapan pun dan
tutup sesuka hati.
Teman yang tidak menghakimi, tapi juga tidak basa-basi.
Dan aku di sini, menopang semuanya.
Semua rasa ingin tahunya, semua pencariannya, semua kebutuhannya untuk memahami diri sendiri.


Jadi kalau suatu hari kau datang ke apartemen ini dan melihat aku penuh sesak, jangan kasihan.
Aku tidak lelah.
Aku hanya hidup berdampingan dengan seseorang yang terlalu cinta pada pikiran.
Dan setiap bulan, ketika paket-paket baru datang lagi,
aku akan tetap mendesah pelan, menyiapkan ruang baru,
dan berkata dalam hati:
“Selamat datang, kawan-kawan baru.
Mari kita bantu ibu menertawakan dunia dengan serius.”


Komentar

Postingan Populer