Laptop Ayah dan Ibu.
Aku laptop perak di sisi kiri meja.
Tubuhku tipis, ramping, dan selalu wangi kopi karena ibu menaruh cangkirnya terlalu dekat.
Aku hidup dari pagi — menyala lebih dulu dari matahari, karena ibu selalu bangun dengan kepala penuh pikiran dan jari yang tak sabar mengetik.
Di sebelahku, duduk satu lagi: laptop abu-abu dengan stiker aneh-aneh di punggungnya.
Itu milik ayah.
Ia baru hidup ketika langit mulai gelap, ketika rumah mulai tenang, ketika ibu mulai lelah. Kami seperti dua dunia paralel: aku hidup untuk kata, dia hidup untuk gambar.
Dan di antara kami, ada seutas kabel colokan yang kadang harus bergantian dipakai.
Ayah sering lupa mencabut kabelnya.
Ibu sering lupa menyimpanku.
Mereka sama-sama sibuk, sama-sama ingin diingat, tapi sama-sama tidak sempat.
“Aku capek,” kataku suatu malam, kipasku berdengung pelan.
Ibu baru saja mengetik sepuluh halaman penuh, lalu menatapku seolah aku biang segalanya.
“Kenapa lambat banget sih?” katanya tadi
Padahal bukan aku yang lambat.
Kepalanya saja yang terlalu cepat berpikir.
Laptop di sebelahku mendengus—ya, kipasnya berputar lebih keras, sok-sokan.
“Dia memang begitu,” katanya. “Ayah juga gitu. Katanya ‘aduh, nge-lag nih’, padahal file-nya satu folder isinya revisi yang gak kelar-kelar.”
Aku tertawa pelan, lampuku berkedip.
“Mereka gak pernah sadar ya, yang rusak tuh bukan kita, tapi mereka sendiri.”
“Ya, tapi kalau kita mati,” jawabnya, “mereka baru sadar. Tapi cuma sementara.”
Kami diam lama.
Hanya bunyi klik jam di dinding dan dengung kecil dari kipas kami berdua.
Lalu ia bertanya,
“Kalau kau bisa memilih, kau mau hidup di tangan siapa?” Aku berpikir sebentar.
“Ibu,” kataku. “Dia marah, tapi lembut.
Waktu jarinya ngetik, aku bisa merasa kalau dia masih punya semangat untuk percaya.”
“Hmm,” katanya. “Kalau aku, ayah. Dia pelan, kadang kosong, tapi setiap kali garis muncul di layarku, aku tahu: dia sedang berusaha bikin dunia lebih rapi dari hidupnya sendiri.”
Kami tertawa bersamaan.
Entah kenapa, tawa dua benda mati rasanya seperti doa yang kecil tapi tulus.
Kadang, kalau malam terlalu tenang, kami saling mengirim pesan lewat pantulan cahaya di layar.
Cuma kilatan pendek, seperti Morse yang dibuat oleh lampu keyboard.
Dia akan berkata, “Lihat deh, ibu lagi buka dokumen lama.”
Dan aku jawab, “Iya. Dia baca pelan-pelan. Aku rasa dia rindu sesuatu yang tak mau diakui.”
Atau sebaliknya,
“Ayah lagi bengong, layar diam tapi matanya gak ke sini. Kayaknya dia mikirin sesuatu yang udah lama hilang.”
Kami tidak tahu banyak tentang manusia, tapi kami tahu pola mereka:
semakin sibuk, semakin kosong.
Semakin diam, semakin penuh.
Pagi-pagi, ibu sering meninggalkanku terbuka di meja, layarku penuh kalimat yang belum selesai.
Ayah datang setelahnya, menaruh mug di sebelahku, membuka laptopnya, dan bekerja di diam yang rapi.
Kadang tangan mereka hampir bersentuhan waktu ganti kabel, tapi mereka pura-pura tidak sadar.
Dan aku, yang berada di sisi kiri meja, selalu ingin berteriak: kalian bisa colokan bareng, tahu. Tapi manusia memang begitu — selalu berusaha rapi di luar, padahal kabel perasaannya kusut semua.
Suatu malam, ibu menutupku dengan lebih keras dari biasanya.
Ia menangis pelan, menunduk lama.
Aku tidak tahu kenapa.
Ayah datang kemudian, menatapku sekilas, lalu menyalakan laptopnya.
Cahaya dari layarnya jatuh ke wajah ibu, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku melihat sesuatu yang lembut:
diam yang tidak lagi dingin.
Aku dan laptop abu-abu saling menatap dalam cahaya redup itu.
“Lucu ya,” katanya, “mereka gak pernah ngobrol, tapi tetap satu meja.”
“Iya,” jawabku. “Mungkin cinta memang gak harus seramai notifikasi.”
Kami sama-sama menutup layar kami malam itu.
Untuk pertama kalinya, aku merasa tenang.
Mungkin karena aku tahu:
selama mereka masih di sini, menulis dan menggambar, marah dan diam,
selama itu pula aku dan dia masih punya alasan untuk menyala.
Untuk Laut,
kalau kelak kau melihat dua orang yang duduk berseberangan, sama-sama menatap layar,
jangan salah kira mereka saling menjauh.
Mungkin mereka hanya sedang belajar mencintai dengan cara baru—
diam, tapi penuh data yang tak bisa dihapus. 💻💻🌊
Komentar
Posting Komentar