Kentang yang Ingin Jadi Sesuatu.



Dapur kecil yang selalu harum bawang tumis dan minyak panas, hiduplah seekor

eh, sebiji kentang.

Warnanya cokelat kusam, bentuknya tidak sempurna, dan matanya, bukan mata sungguhan, tentu saja bertebaran di sana-sini.


Setiap pagi, kentang selalu mendengar gosip sesama sayur di keranjang.
Wortel bercerita bahwa ia sering dijadikan jus sehat.
Brokoli pamer karena katanya, “Aku makanan para pejuang diet.”
Kentang hanya diam.
Kadang ia tersenyum kecut, kadang berpikir: kenapa aku selalu harus digoreng?


Ia ingin jadi sesuatu yang lebih.
Bukan cuma camilan yang dilupakan begitu minyaknya dingin.

“Coba kalau aku jadi mashed potato,” pikirnya suatu pagi.
“Lembut, hangat, dan disajikan di piring mahal.”

Tapi kemudian ia takut.
Bukankah itu berarti ia harus diremukkan dulu?


Hari-hari berjalan.
Suatu sore, seseorang mengambil kentang itu.
Ia deg-degan, berharap akan dijadikan sesuatu yang mulia.
Namun ternyata—brak!—ia dilempar ke panci besar berisi minyak panas.

Kentang berteriak tanpa suara.
Tapi ajaibnya, ketika ia mengapung, tubuhnya berubah jadi keemasan.
Krispi.
Harum.
Disajikan bersama saus tomat.


Anak kecil di meja makan menatapnya penuh suka cita.
“Kentang goreng!” serunya.
Dan kentang merasa, mungkin jadi camilan pun tidak buruk-buruk amat.

Ternyata ia bisa membawa tawa, walau sebentar.
Mungkin makna hidup memang tidak harus megah; kadang cukup membuat seseorang tersenyum di tengah hari yang lelah.


Malamnya, ketika dapur kembali sunyi, aroma kentang goreng masih tinggal di udara.
Dan kalau kau dengar baik-baik, mungkin ada suara kecil yang berbisik lembut:


Tidak apa-apa jadi sederhana.
Yang penting, sempat membuat dunia
terasa hangat.




Untuk Laut, 
yang hidupnya mungkin sependek kentang goreng di atas meja,
tapi hangatnya masih tersisa di udara dan di hati yang selalu memanggil namanya dengan senyum. 🌊🍟

Komentar

Postingan Populer