Aku, Kursi Coklat di Ruang Tamu Ibu.
Aku kursi coklat di ruang tamu ibu.
Dulu aku gagah — busaku tebal, kainku licin, dan semua orang rebutan duduk di atas punggungku.
Sekarang?
Aku miring ke kiri sedikit, bunyi sendiku cempreng, dan kalau orang duduk terlalu keras,
aku akan mengaduh: krieet!
Bukan manja, cuma pengingat bahwa umurku sudah tidak semuda dulu.
Setiap pagi, ibu lewat sambil membawa kain lap.
“Masih di sini aja, kamu,” katanya, seolah aku punya pilihan karier lain.
Kadang ia menepuk punggungku, pelan, seperti menepuk bahu teman lama yang sama-sama tahu rahasia keluarga tapi pura-pura tidak tahu.
Aku suka kalau ibu duduk di atas pangkuanku sambil minum teh.
Tehnya terlalu manis, tapi setidaknya hangatnya menetes sedikit ke tubuhku.
Ia jarang bicara, tapi tubuhnya bercerita.
Kadang berat, kadang ringan — seperti pikiran yang belum selesai.
Aku tahu kapan ia sedang sedih, karena ia akan bersandar lama tanpa suara, dan napasnya terasa seperti embun di serat kainku.
Pernah suatu kali aku hampir dipindahkan ke gudang.
Aku sudah bersiap pamit — sudah kukumpulkan semua kenangan: suara tawa, remah roti, aroma minyak rambut.
Tapi kemudian ibu berdiri diam di depanku, lama sekali, lalu bilang,
“Ah, nanti aja.”
Sejak itu aku tak pernah percaya pada kalimat ‘nanti’.
Karena ‘nanti’ sering kali artinya ‘selamanya’.
Aku punya hubungan rumit dengan tamu-tamu rumah ini.
Kalau orang asing duduk di atasku, aku akan sengaja mengeluarkan suara nyaring.
Sedikit protes kecil, biar mereka tahu aku bukan milik siapa pun selain ibu.
Dan kalau ada yang bilang, “Wah, kursinya masih kuat ya,” aku ingin menjawab,
“Coba duduk di sini tiga puluh tahun sambil dengar keluh kesah yang sama, baru tahu artinya kuat.”
Kadang, kalau malam sudah sepi dan lampu dimatikan, aku merasa rumah ini bernapas.
Dinding berderit, lemari mengeluh, dan aku hanya duduk, menatap ruang kosong di depanku.
Dulu ada banyak langkah kaki yang lalu-lalang.
Sekarang hanya suara kipas dan detak jam yang pelan-pelan jadi lullaby untuk benda-benda tua seperti aku.
Lucunya, aku tidak sedih.
Aku cuma… penuh.
Penuh oleh diam, penuh oleh waktu, penuh oleh hal-hal yang tidak bisa dihapus.
Manusia sering lupa: benda juga punya cara sendiri menyimpan cinta.
Bukan lewat ingatan, tapi lewat bekas.
Kadang aku membayangkan, kalau suatu hari aku benar-benar diganti, semoga ibu tidak terlalu merasa bersalah.
Aku akan senang tahu akhirnya dia bisa duduk di sesuatu yang baru
meski diam-diam aku yakin, punggungnya akan tetap mencari bentuk tubuhku yang miring di kiri itu.
Dan kalau boleh berharap, aku ingin sekali lagi menjadi alas baginya di sore yang tenang,
menampung berat tubuh yang ringan tapi hatinya berat, mendengarkan desah napasnya yang seperti doa pendek,yang tak diucap, tapi selalu sampai.
Untuk Laut,
aku tidak pernah mengenalnya,
tapi aku tahu setiap kali ibu duduk di atas pangkuanku dan menatap jauh,
ada nama kecil yang melintas di udara — lembut, seperti aroma teh manis yang tumpah sedikit ke kainku. 🌊☕️
Komentar
Posting Komentar