Untuk Laut: Tentang Bonggol Sayur, Rusa, dan Kucing-Kucing yang Datang Diam-Diam
Laut sayang,
Sudah lama Ibu tidak menulis untukmu.
Hari ini sepulang kerja, Ibu baru saja membuka kulkas, mencari-cari sesuatu yang segar untuk makan malam, ketika mata Ibu menangkap kantong kecil di sudut laci bawah: bonggol sayur.
Potongan batang sawi, bonggol kol, kulit brokoli, sisa belanja akhir pekan yang Ibu simpan, bukan untuk dimasak, tapi untuk mereka: rusa-rusa yang tinggal di lapangan samping apartemen, tak jauh dari makam pahlawan.
Biasanya, Ibu kasih saat akhir pekan.
Tapi minggu itu Ibu lupa. Sibuk. Lelah. Hidup terlalu cepat. Sampai sore ini, di tengah rutinitas pulang kerja, Ibu teringat:
“Belum kasih jatah mingguan rusa.”
Tanpa pikir panjang, Ibu turun.
Masih pakai baju kerja, masih membawa sisa hari yang kusut. Tapi langkah Ibu terasa ringan, seperti ada yang menunggu.
Dan benar, mereka datang.
Dua puluh ekor lebih.
Rusa-rusa itu berjalan perlahan dari balik semak, dari sela pohon, dari tempat-tempat diam yang jarang dilihat orang.
Mereka mendekat tanpa suara, tapi penuh kehadiran. Mata mereka tenang. Langkah mereka sabar. Mereka tahu: Ibu datang membawa sesuatu.
Ibu ulurkan tangan pelan, satu per satu potongan sayur Ibu bagi. Yang dapat, menjilat dengan lembut. Yang tidak kebagian, hanya memandang, tidak marah, tidak kecewa.
Dan entah kenapa, justru dari yang tak kebagian itulah Ibu belajar banyak:
Bahwa menerima bukan soal mendapat, tapi soal mempercayai bahwa kebaikan bisa datang, bahkan dalam jumlah yang sedikit.
Laut, kamu tahu?
Kehadiran mereka mengingatkan Ibu padamu.
Kamu juga datang dalam hidup Ibu secara singkat hanya sebelas minggu dalam rahim ini. Tapi sejak itu, Ibu jadi lebih peka terhadap hal-hal yang tidak bersuara. Yang tidak sempat tumbuh. Yang tidak menuntut, tapi tetap menunggu.
Di sisi lain lapangan, ada kucing-kucing.
Yang hitam datang perlahan, makan dengan cepat tapi penuh waspada. Yang loreng dengan kalung merah, berdiri tenang seperti sudah tahu ritme manusia. Ibu taruh sedikit makanan di pojok, dan mereka pun ikut mendekat. Bukan karena Ibu punya banyak, tapi karena Ibu tidak menyakiti.
Memberi mereka makan bukan soal sedekah, Laut. Tapi soal menjadi bagian dari yang menjaga. Menyisakan tempat dalam hidup untuk yang tidak bisa meminta.
Seperti rusa.
Seperti kucing-kucing itu.
Seperti kamu.
Kamu tidak sempat tumbuh, tidak sempat melihat dunia. Tapi kamu ada di setiap langkah kecil Ibu: saat membuka kulkas, saat menyobek kantong plastik, saat membuka pagar di bawah apartemen. Kamu hidup di sela-sela dedaunan yang digigiti rusa, di suara lembut kibasan ekor kucing yang lewat tanpa pamit.
Dan sore itu, saat Ibu turun memberi makan meski hanya sedikit, meski tidak cukup untuk semua rasanya seperti sedang menepati janji pada sesuatu yang lebih besar dari Ibu sendiri.
Pada kehidupan.
Pada kasih sayang.
Pada kamu.
Dari Ibu,
Yang masih menyisakan ruang kecil untukmu:
di kulkas, di halaman, di dada.
Komentar
Posting Komentar