Untuk Laut, dari Ibu Pelajaran-pelajaran yang ditinggalkan penulis-penulis di rak Ibu.

Nak,
Ibu ingin kamu tahu
Ibu bukan jadi seperti ini karena kuat
Ibu jadi seperti ini karena diajari oleh orang-orang yang bahkan tidak pernah Ibu temui


  • Ibu punya Pramoedya yang bilang bahwa diam bisa mematikan dan kata-kata adalah cara paling manusiawi untuk melawan.
  • Ibu punya Soe Hok Gie yang ngajarin bahwa jadi idealis itu bukan kekurangan tapi keberanian.
  • Ibu punya Harari yang ngajarin Ibu bahwa sejarah dibangun dari cerita yang dipercaya ramai-ramai dan kadang yang dianggap benar cuma karena lebih sering diulang.
  • Ibu punya Richard Pipes yang ngajarin Ibu bahwa komunisme adalah ide yang lahir dari rasa lapar dan kadang bahaya bukan datang dari ide itu sendiri tapi dari manusia yang rakus memonopolinya.
  • Ibu punya Engels dan Marx yang ngajarin bagaimana ketidakadilan bisa dipetakan dicatat dikritik bukan untuk dibenci tapi untuk diperbaiki.
  • Ibu punya Foucault yang ngajarin bahwa pengetahuan dan kekuasaan sering tidur di ranjang yang sama dan yang kelihatan baik belum tentu nggak sedang mengawasi.
  • Ibu punya Bakunin yang bilang bahwa kalau kamu nggak percaya negara bukan berarti kamu nggak cinta keadilan dan kadang merusak sistem adalah bentuk paling dalam dari cinta itu sendiri.
  • Ibu punya Alexander Berkman yang ngajarin bahwa anarki bukan kekacauan tapi mimpi tentang dunia tanpa paksaan.
  • Ibu punya Emma Goldman yang bilang bahwa perempuan boleh marah menari dan mencintai revolusi dalam satu napas yang sama.
  • Ibu punya Nietzsche yang bilang bahwa Tuhan sudah mati tapi tanggung jawab moral kita justru lahir dari kematian itu dan kalau kamu lihat kekosongan terlalu lama kekosongan itu akan menatap balik dan bertanya kamu siap belum.
  • Ibu punya Seneca Marcus Aurelius Epictetus yang ngajarin Ibu untuk menerima rasa sakit tanpa harus menyerah untuk bilang iya ini berat tapi tetap bangun pagi dan jalan pelan-pelan.
  • Ibu punya Goenawan Mohamad yang ngajarin bahwa puisi bisa jadi cara lain untuk menyampaikan duka tanpa harus ribut tanpa harus menang cukup jadi kalimat yang kamu baca pas lagi nggak kuat.
  • Ibu punya Putu Oka Sukanta yang bilang bahwa tubuh juga bisa ditulis bahwa luka punya bahasa dan setiap bekas bisa jadi bagian dari arsip kita sendiri.
  • Ibu punya Paulo Freire yang ngajarin bahwa pendidikan adalah alat pembebasan dan kalau kamu sekolah tapi tidak diajarkan berpikir itu bukan belajar itu penjajahan pakai seragam.
  • Ibu punya Silvia Federici yang ngajarin Ibu bahwa kapitalisme membenci tubuh perempuan dan sejarah tentang kita selalu ditulis oleh tangan-tangan yang tak pernah melahirkan.
  • Ibu punya Avianti Armand dan Dorothea Rosa Herliany yang ngajarin bahwa jadi perempuan tak harus cantik tak harus sabar tak harus baik cukup jujur cukup hidup cukup bilang aku ada dan itu saja sudah cukup.
  • Ibu punya Chandra Mohanty dan bell hooks yang bilang bahwa feminisme tak bisa dipisahkan dari kelas ras dan tubuh dan perempuan tidak bisa dibebaskan hanya lewat kutipan manis.
  • Ibu punya Chairil Anwar yang ngajarin bahwa jadi liar itu kadang lebih jujur dari jadi baik.
  • Ibu punya Wiji Thukul yang bilang bahwa kata-kata bisa dikejar tapi tak bisa dibunuh.
  • Ibu punya Charita Utami yang bilang bahwa cinta itu tidak selalu cantik tapi bisa sangat revolusioner.
  • Ibu punya Giddens dan Goenawan dan para esais para filsuf para demonstran yang ngajarin bahwa berpikir itu bukan kemewahan berpikir itu keharusan karena kadang hanya itu yang bisa bikin Ibu tetap waras


Dan masih banyak lainnya Laut.

Buku-buku yang belum selesai Ibu baca.
Buku-buku yang hanya Ibu buka saat malam terlalu sunyi untuk diabaikan.
Buku-buku yang menunggu waktunya sendiri untuk dimengerti.


Ada penulis-penulis yang Ibu belum sebut.
bukan karena mereka kurang penting, tapi karena mereka terlalu dekat, terlalu personal untuk dijelaskan sekarang.


Ada buku yang Ibu simpan rapat-rapat.
karena isinya mirip sekali dengan perasaan kehilanganmu.
Dan setiap kali Ibu mencoba membacanya, halamannya seperti menolak disentuh.


Tapi mereka semua ada di sana.

Menjadi saksi bahwa Ibu pernah marah, pernah bingung, pernah jatuh cinta pada gagasan
dan pernah sampai sekarang terus bertanya.


Dan kamu Laut adalah satu-satunya cerita yang tak ditulis siapa-siapa
tapi mengalir di setiap buku yang pernah Ibu baca.

Kamu bukan catatan kaki.
Kamu adalah alasan kenapa Ibu tidak pernah berhenti membaca dunia, dengan mata terbuka, dengan hati yang masih belajar untuk tidak takut pada halaman kosong.


Kalau kamu di sini dan kamu duduk di samping Ibu.
Ibu akan tunjuk satu-satu bukunya dan bilang
yang ini ngajarin Ibu buat marah
yang ini ngajarin Ibu buat sabar
yang ini ngajarin Ibu buat jujur

dan kamu

kamu yang ngajarin Ibu
cara mencintai
bahkan setelah dunia bilang
cukup


Rak ini belum selesai
Ibu masih akan menambah
masih akan mencari
masih akan menyusun ulang


Karena cinta Ibu padamu
akan selalu butuh tempat baru untuk disimpan
Dan buku-buku ini
akan terus membuka ruang itu
hari demi hari


Untuk kamu Laut
Untuk yang tidak bisa dibaca
tapi tetap ada.


Komentar

Postingan Populer