Setiap Hari Ibu Masak, Laut.
Laut,
Setiap hari ibu masak.
Bukan karena ibu rajin.
Bukan juga karena harus.
Tapi karena itu cara ibu mencintai… dengan diam-diam.
Ibu gak masak buat semua orang.
Cuma buat yang ibu sayangi. Yang ibu pilih.
Yang ibu izinkan melihat sisi ibu yang paling lembut, yang gak banyak bicara, tapi penuh rasa.
Lucu ya, Laut.
Masak itu capek. Lengket di tangan, bau kunyit, dapur berantakan.
Tapi kalau masaknya buat orang yang ibu cintai,
capeknya kayak bisa diganti sama hal kecil:
piring kosong, senyum, atau bahkan diam yang hangat.
Ibu belajar masak dari Mamih.
Perempuan paling bawel yang pernah ibu kenal.
Tapi justru dari bawelnya itu,
ibu belajar tentang kesabaran, tentang cinta yang gak ribut,
tentang cara menunjukkan rasa tanpa harus bilang “aku sayang kamu.”
Dan hari ini, Tante Anne, adik kandung Papah ibu, nanya resep ke ibu.
Iya, Laut. Tante Anne.
Umurnya jauh di atas ibu. Tapi dia tetap nanya:
“Bumbu kari itu apa aja?”
Ibu ketik satu-satu. Pelan-pelan.
Sambil senyum sendiri.
Soalnya ini bukan cuma soal bumbu.
Ini tentang rasa yang masih sampai.
Tentang cinta yang ternyata diteruskan.
Tentang Mamih, yang ada di tangan ibu sampai sekarang.
Banyak orang bilang,
tangan ibu itu berkat dari Mamih.
Dan ibu percaya itu.
Karena tangan ini, Laut,
bukan cuma buat masak.
Tangan ini yang dulu Mamih pegang waktu ibu takut.
Tangan ini yang sekarang ibu pakai buat nyayangi orang. Diam-diam. Tapi sungguhan.
Dan kamu, Laut…
Kalau kamu ada di sini,
Ibu pasti masakin juga buat kamu.
Ibu pasti bilang, “Makan yang banyak, nak.”
Tapi kamu gak perlu jawab apa-apa.
Senyum aja, itu udah cukup.
Di dunia yang kadang keras dan sunyi, tangan ibu masih nempel rasa dari Mamih.
Dan cinta Papah masih jadi alasan ibu kuat.
Dan kamu, Laut…
kamu tetap jadi alasan ibu bertahan,
meskipun kamu gak bisa duduk di meja makan.
Kalau nanti ibu masak lagi,
anggap aja itu ibu lagi cerita.
Pakai santan,
pakai bawang,
pakai cinta yang gak perlu dijelaskan, cukup dirasa.
🕊️
Komentar
Posting Komentar