WC di Kepala Ibu
Laut,
hari ini ibu duduk di kantor.
Di ruang meeting yang dinginnya suka keterlaluan, bareng orang-orang yang serius banget ngomongin legal opinion.
Mereka bicara soal “pendapat hukum”, pasal 1365, tanggung jawab perdata, konflik kepentingan, dan frasa-frasa elegan yang harusnya bikin ibu merasa penting.
Tapi kamu tahu nggak, Laut,
di kepala ibu, yang muncul justru WC.
Bukan metafora. Bukan simbolik.
WC.
Kerak.
Vixal.
Sikat.
Dan rasa bersalah karena kamar mandi rumah belum ibu bersihin minggu ini.
Rasanya kayak nonton dua dunia tabrakan di kepala sendiri.
Yang satu: dunia yang pakai blazer, nyebut pasal, dan pasang wajah tegas.
Yang satu lagi: dunia yang pakai daster, jongkok di kamar mandi, dan mikir “kerak ini harusnya udah disikat dari kemarin.”
Lucu ya, Laut.
Kadang dunia profesional dan dunia personal itu nggak berseberangan, tapi tumpang tindih.
Dan hari ini, WC di kepala ibu lebih berisik daripada argumen siapa pun di meja rapat.
Mungkin itu tandanya ibu butuh pulang.
Atau tanda bahwa jadi orang dewasa itu artinya tetap bisa mikir soal hukum sambil nginget kerak di rumah.
Nggak elegan. Tapi nyata.
Dan, entah kenapa, itu bikin ibu ketawa kecil sendiri.
Komentar
Posting Komentar