Untuk Laut: Tentang Perempuan yang Ingin Diakui

Laut,

hari ini di kantor ibu, ada seorang perempuan datang.
Langkahnya kecil, suaranya kecil, tapi hatinya ibu bisa rasakan penuh muatan yang hampir tumpah.


“Bu,” katanya, “saya ingin tahu, kalau saya meninggal… anak saya bisa dikasih hak waris gak, dari bapaknya?”

Ibu berhenti mengetik. Matanya berkedip cepat. Perempuan ini belum bicara soal status, tapi ibu tahu arah ceritanya.


“Bapaknya anak kamu suami orang, ya?” tanya ibu pelan.
Dia mengangguk. “Iya, tapi dia bilang sayang sama saya, Bu.”


Kalimat itu, Laut, sudah terlalu sering ibu dengar.


Di negeri ini, sayang itu bukan dasar hukum.
Rasa cinta, walau sebesar langit dan laut, tidak berlaku di pengadilan kalau tak dicatatkan di KUA.

Kalau seorang perempuan hidup bersama laki-laki yang sudah punya istri, tanpa ikatan pernikahan yang sah, maka dalam hukum, ia bukan siapa-siapa.

Bahkan jika mereka tinggal serumah.
Bahkan jika ia mengandung dan melahirkan anak dari laki-laki itu.


Dia tidak bisa menuntut nafkah.
Tidak bisa menuntut pembagian harta.
Tidak bisa menuntut kejelasan status jika ditinggal.


Bahkan anaknya pun meskipun bisa diakui lewat tes DNA atau sidang isbat harus melalui jalan yang berliku untuk sekadar mendapat nama ayah di akta lahirnya.

Dan itu pun, Laut, kalau sang ayah bersedia.
Kalau tidak? Maka anak itu hanya akan punya satu nama. Namanya sendiri. Nama ibunya.


Perempuan itu berkata, “Tapi saya rela kok, Bu. Saya gak minta apa-apa. Cuma pengin anak saya gak dipermalukan.”

Ibu terdiam.

Laut, ibu ingin sekali bilang:
Kenapa kamu harus rela atas sesuatu yang dari awal tidak adil untukmu?


Tapi ibu tahu, kadang perempuan seperti dia sudah terlalu lelah membela dirinya.
Sudah terlalu sering dicap sebagai perebut, perusak, pendosa.
Padahal sering kali, yang datang duluan adalah rayuan, bukan niat.


Laut,
meski kamu tak akan tumbuh besar, tak akan jatuh cinta, tak akan pernah tahu rasanya memilih atau dipilih, aku tetap ingin bercerita padamu.

Karena kamu tetap anakku.

Dan ibu ingin kamu tahu seandainya kamu bisa melihat dunia ini dari tempatmu sekarang bahwa di sini, masih ada begitu banyak perempuan yang rela diperlakukan setengah, padahal mereka layak mendapat penuh.


Tidak ada satu pun perempuan yang pantas diperlakukan seperti rahasia.

Seberapa pun dia mau.
Setulus apa pun cintanya.
Serela apa pun dia memberi.


Dia tetap tidak layak menerima hanya setengah waktu, setengah perasaan, dan tanpa nama di status hukum.


Perempuan bukan bayangan.
Bukan tempat bersandar sementara.
Bukan ruang tunggu.


Dan semoga, siapa pun yang membaca ini, tahu: 
cinta tak seharusnya membuatmu hilang dari dirimu sendiri.


Komentar

Postingan Populer