Untuk Laut, tentang Perempuan di Akte Itu

Sebentar lagi tanggal sepuluh Juni. Harusnya ulang tahun ibu dari ibu kamu. Tapi ya… aku bahkan nggak yakin dia ulang tahun ke berapa sekarang. Di akte kelahiranku, usianya harusnya lima puluh delapan tahun. Tapi kayaknya itu juga udah berubah. Atau bisa jadi seperti hal lain dalam hidupnya itu sengaja dia ubah.


Aku nggak tahu pasti kapan tepatnya nama dia berubah. Yang aku tahu, nama yang tertera di akte kelahiranku bukan nama yang sekarang dia pakai. Nama yang dulu, nama yang tercetak resmi di dokumen negara, rasanya lebih aku kenal dibanding perempuan yang kadang muncul di hidupku sebagai sosok “mamah”.


Kadang aku mikir, Laut, kalau nama bisa diubah, umur bisa digeser, alamat bisa pindah… lalu kenangan itu tetap milik siapa? Karena yang aku ingat cuma satu: dia ninggalin aku waktu aku umur tiga tahun. Dan sejak itu, semuanya jadi kabur.


Terus, bertahun-tahun kemudian, dia datang lagi. Bukan sebagai ibu, tapi lebih mirip tamu. Bawa suami baru, cerita baru, kehidupan baru, seakan semua yang pernah hilang itu cuma jeda kecil. Sementara aku? Aku masih di situ. Masih jadi anak yang pernah ditinggalin. Masih bingung harus panggil siapa. Masih mencari arti dari kata “ibu” yang dulu aku pikir sederhana.


Yang lebih aneh lagi, sekarang aku bahkan nggak tahu pasti dia lahir tahun berapa.

Lucu ya, Laut. Kita bisa lahir dari seseorang tapi nggak pernah benar-benar kenal siapa dia. Bisa tinggal puluhan tahun di dunia tapi nggak punya cukup data buat percaya.


Jadi kadang aku ngerasa begini: yang tertulis di akte kelahiran itu lebih seperti peta. Tapi peta yang jalannya udah diblokir, ditutup, dibongkar. Dan perempuan yang pernah melahirkan aku itu, entah sekarang ada di mana. Entah siapa sebenarnya dia.


Aku cerita ini ke kamu bukan buat nyalahin. Aku cuma nggak mau kamu tumbuh dalam kebingungan yang sama. Ibu nggak bisa janji jadi orang tua yang sempurna, tapi ibu janji akan selalu jujur. Termasuk tentang hal-hal yang bikin sesak.


Jadi, kalau suatu hari kamu bertanya, “Siapa ibu dari ibu?”

Jawabannya akan panjang. Kadang diam. Kadang cuma anggukan pelan sambil mikir:

“Dia yang melahirkan aku… tapi bukan dia yang membesarkanku.”


Dan itu cukup.

Kamu nggak harus paham sekarang. Tapi kamu boleh tahu dari sekarang.


Dengan hati yang pelan-pelan belajar berdamai,

Ibu


Komentar

Postingan Populer