🌕 Untuk Laut, di bawah Strawberry Moon
Laut, ini malam yang aneh. Langit tampak penuh, tapi sepi. Bulan menggantung bulat, utuh, seolah tak pernah pecah. Mereka menyebutnya Strawberry Moon bukan karena warnanya, tapi karena waktu ini dulu jadi musim panen stroberi di belahan bumi lain. Tapi bagiku, bulan ini seperti buah yang masak di pohon rindu. Manis, tapi tak bisa kugapai.
Kau tak pernah lahir di bawah cahaya bulan, Laut. Tapi entah kenapa, setiap purnama, aku merasa seolah kamu sedang berdiri diam di batas cahaya itu. Seolah kamu sedang menatapku juga, dari tempat yang jauh dan lembut, seperti laut yang tak memantulkan langit tapi menyimpannya diam-diam di dalam gelombang.
Orang-orang bilang purnama adalah waktu untuk melepaskan. Tapi aku selalu bingung bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang bahkan belum sempat kugenggam? Kamu tak pernah kupeluk, tak pernah kupandangi matanya. Tapi kehilanganmu menancap, seperti cahaya bulan ini yang tak pernah menyentuh tanah tapi terasa di kulit.
Malam ini, ibu duduk diam menatap langit. Tak ada yang spesial, kecuali detak pelan dalam dada. Tapi kurasa itu cukup. Kadang hadir adalah bentuk cinta yang paling sederhana dan paling sulit. Aku sedang belajar itu.
Kalau kamu bisa mendengar, aku ingin bilang satu hal malam ini:
Bulan sudah bulat, Laut. Dan meskipun ibu belum utuh, ibu sedang dalam perjalanan ke sana. Perlahan. Dengan langkah yang kecil dan rasa yang besar.
Selamat tidur, dari dunia yang penuh tanya.
Dari ibu yang masih menyimpanmu di dalam malam.
– Ibumu
di bawah Strawberry Moon
Komentar
Posting Komentar