Untuk Laut, dari Ibumu yang Masih Belajar Pulih.

Laut,

Hari ini ibu ingin cerita sesuatu yang belum pernah ibu bilang.

Tentang kenapa kadang ibu terlihat baik-baik saja, tapi di dalam, rasanya seperti tenggelam pelan-pelan. Tentang kenapa ibu sering senyum, tapi juga sering merasa kosong. Tentang luka yang tak terlihat, tapi sudah lama tinggal di tubuh ibu.


Laut,

Ibu sedang belajar memanggil nama luka itu. Dua, tepatnya. Namanya rumit: Complex Post-Traumatic Stress Disorder dan Persistent Depressive Disorder.

Kita panggil saja mereka: Trauma yang diam-diam bertahan, dan Sedih yang tak pergi-pergi.

Ibu tahu itu terdengar menyeramkan, Nak. dengar, ya

Ibu tidak datang dari tempat yang lembut. Ibu tumbuh dari tanah yang keras.

Tempat di mana perasaan harus disembunyikan agar tetap selamat.

Tempat di mana cinta datang dengan syarat, dan kejujuran bisa jadi senjata makan tuan.

Tempat di mana anak belajar diam sebelum belajar bicara, dan memahami orang lain sebelum memahami diri sendiri.


Ibu hidup lama di tempat seperti itu.

Dan karena ibu hidup terlalu lama di sana, otak dan tubuh ibu terbiasa dalam mode siaga.

Selalu bersiap disalahkan. Selalu takut membuat kecewa. Selalu berpikir: jangan jujur, nanti kamu ditinggal.


Itulah C-PTSD, Nak.

Luka yang tidak datang dari satu kejadian besar, tapi dari pola kecil yang berulang-ulang.

Luka yang membuat ibu mencintai dengan takut, berbicara dengan hati-hati, dan mencurigai kebahagiaan seolah ia akan hilang secepat datangnya.


Dan karena luka itu lama tinggal, datanglah yang kedua: Sedih yang tak pergi-pergi.

Ibu tetap hidup, tetap bangun, tetap bekerja, tetap tertawa. Tapi ada kabut.

Kadang ibu menyuap nasi ke mulut, tapi rasanya hambar.

Kadang ibu mendengar musik kesukaan ibu, tapi tak ada getar.

Kadang ibu dipeluk ayahmu, pelukan yang hangat, tulus, tapi ibu merasa seperti tak layak menerima itu.


Itulah Dysthymia, Nak.

Sedih yang tipis tapi lengket.

Sedih yang tak dramatis, tapi diam-diam menguras tenaga setiap hari.

Sedih yang membuat ibu terus berjalan, tapi tak pernah merasa sampai.

Tapi Laut,

Jangan bayangkan ibu sebagai orang yang kalah.


Ibu masih di sini. Masih berjalan. Masih belajar.

Setiap hari ibu memanggil nama-nama luka itu, bukan untuk menaklukkan mereka, tapi untuk berkata:

“Aku tahu kamu ada. Tapi kamu bukan aku.”


Dan tahu nggak?

Sejak kamu datang, bahkan hanya sebentar, ada cahaya kecil di dalam dada ibu yang tidak pernah padam.

Cahaya itu mengingatkan ibu bahwa ada cinta yang tidak bersyarat.

Cinta yang datang tanpa menuntut ibu untuk sempurna.

Cinta yang hadir bahkan sebelum ibu sempat menyentuhnya.


Cinta itu kamu.


Laut,

Jika suatu hari kamu bisa membaca ini dari tempatmu entah di surga, atau dalam sunyi yang tak terjamah kata.

Ibu ingin kamu tahu:

Ibu sedang menyembuhkan diri agar bisa hidup dengan lebih ringan.

Bukan untuk dunia. Tapi untuk menghormati hidup. Untuk menghormati kamu.


Karena kamu pantas punya ibu yang belajar pulih.

Dan ibu ingin kamu bangga, bahkan jika ibu belum sepenuhnya sembuh.




Doakan ibu ya, Laut.

Peluk dari jauh, seperti biasanya.

Dari ibu yang masih belajar memeluk dirinya sendiri.


Dengan cinta yang tak pernah selesai,

Ibumu.


Komentar

Postingan Populer