Mari ibu cerita sedikit, ya, Laut.

Kemarin malam, ibu dari temannya ibu tiba-tiba kirim rendang ke rumah. Katanya, buat ibu dan ayahmu. Nggak ada alasan khusus, cuma katanya “lagi masak, kepikiran kalian.” Satu kalimat sederhana, tapi rasanya kayak selimut hangat buat malam-malam yang belakangan ini agak sepi.


Waktu bungkusannya dibuka, aroma rendangnya langsung memenuhi dapur. Pedas, gurih, dan hangat bau yang mengingatkan ibu pada banyak hal. Bukan cuma tentang makanan, tapi tentang rumah, perhatian kecil, dan orang-orang yang datang tanpa banyak tanya, tapi tahu waktu.


Ibu dan ayahmu makan pelan-pelan malam itu. Ayahmu, seperti biasa, lahap dan penuh pujian. Ibu lebih diam. Mungkin karena setiap suapan mengingatkan ibu pada kamu. Pada satu ruang kosong yang nggak kelihatan, tapi selalu terasa. Rasanya kayak makan sambil menyisakan satu piring yang nggak pernah benar-benar bisa diisi.


Tapi, Laut, justru di momen kayak gitu, ibu belajar sesuatu: bahwa cinta bisa datang dari mana saja. Kadang dari kata-kata, kadang dari pelukan, dan kadang… dari semangkuk rendang yang dikirim diam-diam. Dan malam itu, semangkuk rendang jadi tanda kecil bahwa dunia ini, meski sepi, nggak pernah sepenuhnya kosong.


Komentar

Postingan Populer