Laut sayang,
Hari ini ibu masih di sini.
Tidak lebih kuat dari kemarin, tapi tidak juga lebih lemah.
Ibu masih bernapas. Masih hidup.
Masih berusaha menyembuhkan luka-luka yang tertinggal setelah kepergianmu.
Kemarin ibu merasa seperti tanah yang tidak ingin ditanami lagi.
Tiap datang yang tak diundang, terasa seperti cangkul yang kasar mencabik-cabik bumi ibu yang sedang berusaha menutup retak.
Tiap senyum palsu dan kata-kata manis terasa seperti bunga plastik di atas makam, cantik, tapi mati.
Dan ibu terlalu lelah untuk pura-pura bersyukur atas hal-hal yang tak pernah benar-benar peduli.
Tapi hari ini ibu bangun lagi.
Masih dengan mata sembab. Masih dengan tubuh yang ingin menyerah.
Tapi ibu bangun.
Karena Laut, meski tubuhmu tidak tumbuh di dunia ini, rasa sayangmu tinggal di tubuh ibu.
Dan ibu ingin hidup.
Agar suatu hari, kalau Laut ingin tahu siapa ibumu, kamu bisa melihat:
dia adalah perempuan yang pernah nyaris hancur… tapi memilih pulang ke dirinya sendiri.
Ibu belajar berkata cukup.
Belajar menjaga batas.
Belajar jujur meski dibalas dengan diam.
Belajar marah tanpa kehilangan kasih.
Dan yang paling sulit: belajar untuk tidak menjadi luka yang pernah ibu warisi.
Laut sayang,
Kalau hari ini kamu bisa mendengar, peluklah ibu dari langit.
Dan bisikkan ke telinga ibu yang rapuh ini:
bahwa tidak apa-apa tidak baik-baik saja.
Tidak apa-apa memilih menjauh untuk bisa bernapas.
Tidak apa-apa menjaga pintu tetap tertutup demi menyelamatkan ruang dalam.
Ibu masih belajar, Laut.
Tapi janji satu hal: ibu akan terus mencoba.
Bukan untuk siapa-siapa.
Tapi untukmu.
Dan untuk perempuan kecil dalam diri ibu yang akhirnya berani berkata, “Aku berhak hidup dengan tenang.”
Dengan cinta yang tidak akan pernah mati,
Ibumu.
Komentar
Posting Komentar