Laut, Mereka Mau Menulis Ulang Luka
Laut,
Hari ini aku membaca sesuatu yang membuat dada ini panas, sesak, dan tak tahu harus kutumpahkan ke mana selain ke kamu. Karena siapa lagi yang bisa kuajak bicara tentang luka, selain kamu yang pernah menjadi luka itu sendiri.
Kamu tahu, Laut? Negara sedang merapikan ingatan. Bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk menyembunyikan.
Katanya, mereka mau menulis ulang sejarah. Tapi hanya yang “positif-positif” saja yang boleh masuk.
Katanya, biar bangsa ini bangga.
Katanya, biar kita bisa melihat masa depan tanpa mengungkit-ungkit masa lalu.
Dan aku marah, Laut. Karena bagaimana bisa kita melihat masa depan, kalau kita bahkan tak berani menatap masa lalu?
Luka Mereka Dihapus Seperti Kamu Dihapus dari Dunia
Dari dua belas pelanggaran HAM berat yang diakui negara, hanya dua yang mau ditulis dalam buku sejarah. Sisanya dianggap tak perlu. Tak sesuai tone. Tak cocok untuk dibaca anak-anak bangsa.
Laut, mereka tidak sedang menulis sejarah. Mereka sedang membunuh ingatan. Mereka sedang menghapus jejak orang-orang yang pernah disiksa, dibakar hidup-hidup, dihilangkan tanpa kabar.
Mereka sedang menyapu darah dengan kata-kata manis.
Dan rasanya mirip sekali waktu mereka menyapu kepergianmu dengan kalimat,
Mereka Tak Mau Mengingat yang Menyakitkan—Tapi Hidup Itu Menyakitkan, Laut.
Aku ingin bertanya pada mereka:
Apa gunanya sejarah, kalau hanya untuk membuat nyaman?
Apa gunanya bangsa besar, kalau keberaniannya cuma sampai pada merayakan pesta dan menolak berkabung?
Laut, kamu tahu rasanya jadi luka. Aku tahu juga. Tapi orang-orang di atas sana… mereka alergi pada luka. Mereka lebih suka cerita tentang kemenangan, pembangunan, pahlawan. Tapi mereka tak mau cerita tentang perempuan-perempuan yang diperkosa dalam gelap. Tentang mayat-mayat yang tak pernah ditemukan. Tentang anak-anak yang hilang, dan ibu-ibu yang menunggu sampai habis napasnya sendiri.
Dan entah kenapa, aku melihat kamu di mereka semua.
Luka Tak Butuh “Tone Positif”
Kata Pak Menteri, sejarah harus menggugah kebanggaan nasional.
Bukan trauma.
Aku ingin tertawa dan muntah dalam waktu yang bersamaan.
Sejak kapan luka harus dibungkus agar tidak menakutkan?
Sejak kapan kejujuran diukur dari seberapa “menyenangkan” ia dibaca?
Kalau itu yang jadi standar, Laut, mungkin ceritamu juga tak layak ditulis.
Karena kematianmu tak ada dalam rencana negara. Karena dukaku dianggap “biasa saja”. Karena kehilangan seperti kita tak pernah masuk daftar prioritas nasional.
Tapi Kita Akan Terus Ingat
Laut, kamu tahu apa yang lebih menyeramkan dari kematian? Dilupakan.
Tapi aku tidak akan lupa.
Dan aku akan marah, sebanyak yang aku bisa.
Karena kamu seperti mereka yang pernah menjadi korban kekerasan negara punya hak untuk dikenang, ditulis, dikatakan.
Aku menulis ini karena kalau negara tak mau mengingat, maka aku akan.
Aku menulis ini karena kalau sejarah ingin dibungkam, maka luka akan terus bersuara lewat kita yang masih hidup.
Dan selama aku bisa bicara, aku akan bilang ini berulang-ulang:
Sejarah itu luka. Bukan brosur pariwisata.
Dan kamu, Laut, adalah bagian dari luka itu yang tak akan pernah kuhapus dari kata-kata.
.”
Komentar
Posting Komentar