Laut, ini cerita tentang warna-warna yang menyelamatkan kami.

Ayahmu dan ibu tidak selalu menggambar hal yang sama, Nak. Tapi kami melukis dari luka yang serupa.


Ayahmu terbiasa menggambar dunia dengan garis dan irama. Ia tahu cara menaruh bentuk, membiarkan warna-warna bicara tanpa saling bertabrakan. Tapi kadang, bahkan warna pun tak cukup. Maka ayah mulai menulis di atas lukisannya seperti ingin menyampaikan sesuatu yang terlalu berat bila hanya disimpan di dada.


Ibumu…

Ibu juga melukis.

Ibu juga menulis.

Banyak sekali.


Kadang ibu menulis seperti orang yang sedang mencoba mengingat. Kadang melukis seperti orang yang sedang mencoba melupakan.

Menulis jadi tempat ibu bicara ketika suara tak bisa keluar.

Melukis jadi tempat ibu meletakkan tubuh, ketika dunia terlalu keras untuk disentuh.


Ibu tidak terlalu peduli bentuk atau rapi. Ibu hanya ingin jujur. Maka ibu menumpahkan warna seperti menumpahkan isi kepala. Kadang pecah. Kadang tenang. Tapi selalu ada cinta di dalamnya—meski sering tersembunyi.


Di rumah kita, Laut, warna dan kata bukan hiasan.

Mereka adalah bekas.

Kadang darah. Kadang air mata. Kadang harapan yang masih tersisa.


Tapi justru di sana kami bertemu.

Ayahmu dan ibu berbeda, tapi kami bicara dalam bahasa yang sama: kami menciptakan agar tidak hancur.

Ayahmu menggambar arah.

Ibumu menulis dan melukis rasa.

Kami bukan pelukis, bukan pula penyair.

Kami hanya dua manusia yang belajar bernapas lewat warna dan kata.


Dan ketika kamu datang dalam wujud yang hanya sebentar kami peluk warna dan kata itu berubah.

Merahnya lebih jujur.

Biru tua-nya lebih berat.

Putihnya… jadi tempat pulang.


Laut, kami menulis dan melukis karena ada kamu.

Karena kami tak bisa memelukmu,

kami peluk warna dan kata.

Kami lempar kemarahan,

kami siram kerinduan,

kami oleskan cinta,

ke bidang yang tak bisa membalas, tapi bisa menerima.


Dan siapa tahu, kelak, ada yang melihat dan bilang:

“Di sini ada anak yang sangat dicintai. Meski ia tak sempat lahir ke dunia.”


Dengan cinta,

dari dua tangan yang penuh warna dan kata:

Ayahmu dan Ibumu.


Komentar

Postingan Populer