Jangan Jelaskan ke Orang yang Sudah Niat Nggak Ngerti.
Laut,
hari ini ibu nanganin kasus cyberbullying.
Kasus hukum yang rumit, tapi penting. Soal bagaimana orang menyakiti orang lain di dunia maya.
Tapi anehnya, yang muncul di kepala ibu justru… perempuan itu.
Perempuan yang dulu, setahun lalu, ngirimin pesan ke ayahmu teman kantor katanya.
Tapi bahasanya bukan bahasa kerja. Bukan bahasa profesional. Lebih mirip bahasa orang iseng yang pengin dilihat manis.
Ibu nggak marah waktu itu, Laut.
Nggak drama. Nggak ribut.
Ibu cuma… ngelihat story Instagram-nya.
Follow sebentar.
Tapi nggak like, nggak komen, apalagi ngata-ngatain.
Tapi rupanya di dunia dia, itu udah cukup buat disebut “cyberbullying.”
Iya, Laut.
Cyberbullying katanya.
Dia marah-marah di WhatsApp.
Bilang ke ayahmu bahwa ibu membully dia di dunia maya.
Padahal, ibu cuma scroll dengan tenang, tanpa niat menghina, cuma… pengin tahu. Karena ibu manusia.
Terus dia ngajak ibu ketemu HRD. Di kantornya ayahmu.
Dan ibu bilang gini:
“Kalau kamu ngerasa ini cyberbullying, jangan ke HRD dong. Ke kantor polisi aja. Biar sekalian resmi.”
Karena ya… ibu nggak mau main setengah-setengah dalam urusan hukum. Dan juga, sedikit karena ibu pengin tahu:
gimana ekspresi dia pas ngomongin “cyberbullying” ke penyidik yang serius.
Waktu itu ibu ketawa, Laut. Sekarang juga masih.
Tapi ketawa yang agak getir, karena ibu sempat repot sendiri nanggepin orang yang seharusnya cukup disenyumin.
Kadang, Laut, hal paling ibu sesali bukan karena ibu ikut drama kecil itu, tapi karena ibu sempat ngasih energi buat sesuatu yang nggak layak.
Bukan karena dia jahat. Tapi karena dia… bodoh.
Dan ibu harusnya tahu: bodoh bukan untuk diajak debat. Tapi untuk dilewati aja.
Hari ini ibu ketemu kasus hukum beneran soal cyberbullying.
Dan langsung keinget sama dia.
Bukan karena mirip. Tapi karena jauh.
Yang satu korban sungguhan. Yang satu korban dari imajinasinya sendiri.
Begitulah, Laut.
Kadang musuh terbesarmu bukan yang menyerangmu keras-keras,
tapi yang membuatmu berpikir kamu harus menjelaskan sesuatu ke orang yang bahkan nggak ngerti konteks.
Ibu belajar banyak dari peristiwa itu.
Termasuk belajar buat nggak ngasih panggung ke badut yang nyangka dia pemeran utama.
Semoga kamu nanti bisa lebih bijak dari ibu ya,
dalam memilih siapa yang layak dijawab, dan siapa yang cukup didoakan.
Komentar
Posting Komentar