Cerita tentang Hal Kecil yang Allah Lihat
untuk Laut, dari ibumu
Laut,
hari ini ibu ingin bercerita. Tentang dua ayat di Al-Qur’an yang ibu temukan di tengah hari yang pelan-pelan ibu susun ulang. Hari yang rasanya seperti menempelkan satu-satu keping kaca dari hidup yang dulu sempat pecah.
Ayat pertama dari Surat Az-Zalzalah, ayat 7–8. Allah berfirman:
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).
Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS Az-Zalzalah 7–8)
Zarrah, Laut, itu partikel terkecil. Bahkan lebih kecil dari sisa-sisa rasa sabar yang ibu kumpulkan tiap kali hampir meledak. Lebih kecil dari detik di mana ibu memilih diam saat ingin teriak. Lebih kecil dari langkah menjauh yang ibu ambil, daripada harus menyakiti balik.
Ibu sering kali memilih diam. Bukan karena tidak sakit. Tapi karena tahu, berbicara pun takkan membuat mereka berubah.
Seorang perempuan yang melahirkan ibu tidak ada saat ibu sedang menunggu kabar tentang hidup atau matinya kamu di dalam perut. Ia sibuk. Ia jauh. Dan yang lebih menyakitkan: ia tidak merasa bersalah.
Seorang perempuan lain yang katanya harusnya paling mengerti karena pernah menggendong ibu waktu kecil meninggalkan ibu sendirian di rumah sakit. Sibuk dengan hidupnya sendiri. Tidak bertanya kabar. Tidak hadir. Tidak peduli.
Ibu menyimpan itu semua dalam dada yang sempit. Menahan marah saat marah bisa saja jadi pelampiasan. Menelan kecewa saat kecewa itu pahitnya seperti luka yang dicelup garam.
Tapi dua ayat itu, Laut…
membuat ibu berhenti menunggu. Berhenti berharap pengakuan. Berhenti menanti seseorang minta maaf.
Karena ayat kedua dari Surat Al-Isra’, ayat 7, berbunyi:
“Jika kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri.
Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.”
(QS Al-Isra’: 7)
Artinya, saat ibu memilih sabar, itu bukan untuk mereka.
Saat ibu tidak membalas, itu bukan karena takut.
Saat ibu menahan mulut ibu dari membuka aib mereka, itu bukan karena ibu kalah.
Itu semua untuk ibu sendiri.
Untuk menjadi perempuan yang bisa tidur dengan tenang.
Untuk bisa memandang diri sendiri tanpa merasa menjijikkan.
Dan yang paling penting, untuk jadi orang yang masih layak menerima cinta dari Allah, dari ayahmu, dan dari kamu… meskipun kamu tidak sempat hidup di dunia ini.
Laut,
kalau suatu hari kamu hadir dalam bentuk tanya, dan bertanya:
“Bu, kenapa ibu tetap baik padahal bisa sekali membalas?”
Maka ibu akan jawab begini:
Karena Allah lihat semuanya.
Karena Allah tidak pernah tidur.
Karena kebaikan seberat zarrah pun akan dibalas.
Dan kejahatan sekecil itu pun juga akan dibalas.
Jadi ibu belajar perlahan-lahan.
Biarpun orang yang paling ibu harapkan hadir malah pergi,
biarpun orang yang paling ibu percaya malah memilih bungkam,
ibu tetap memilih jadi orang yang baik.
Karena Allah tahu.
Dan itu cukup.
Komentar
Posting Komentar