Untuk Laut, pelajaran kecil tentang “Let Them”
Nak,
kalau saja kamu sempat hidup lebih lama di dunia ini, kamu mungkin akan tahu betapa bisingnya hidup.
Bukan oleh klakson atau mesin, bukan oleh suara berita yang tak pernah berhenti, tapi oleh semua pendapat yang menempel di pundak orang lain. Pendapat tentang bagaimana kamu seharusnya hidup, berpikir, merasa, atau memilih jalan pulang.
Dunia ini, Laut, tidak pernah kekurangan suara. Tapi ia sering kehabisan ruang untuk mendengar.
Itu sebabnya Ibu ingin menitipkan satu pelajaran kecil. Satu yang Ibu pelajari dengan napas berat dan hati sobek, berkali-kali.
Namanya Let Them.
Biarkan.
Biarkan mereka salah paham.
Biarkan mereka menilai dari jauh, tanpa tahu medan yang kamu lewati.
Biarkan mereka kecewa pada pilihan yang kamu ambil, bahkan saat itu satu-satunya pilihan yang membuatmu tetap utuh.
Biarkan mereka berkata, “Seharusnya kamu begini,” atau “Kenapa kamu tidak begitu.”
Dan kamu, Nak, boleh menjawab dalam diam.
Karena hidupmu bukan utang pada harapan orang lain.
Dan kamu tidak harus menjadi proyek yang disukai semua orang, agar pantas untuk dicintai.
Ibu belajar itu lewat kehilangan.
Lewat tubuh yang tiba-tiba kosong.
Lewat harapan yang sempat tumbuh, lalu patah begitu saja.
Lalu datang suara-suara itu yang ingin Ibu cepat baik-baik saja, cepat kembali normal, cepat melupakan.
Padahal apa yang hilang dari Ibu tidak pernah bisa diganti.
Ibu sempat berpikir, harus menjelaskan semuanya.
Bahwa kehilangan itu nyata. Bahwa kamu ada. Bahwa rasa sakit ini bukan drama.
Tapi lalu Ibu lelah. Dan pelan-pelan Ibu tahu, kadang yang paling waras bukan yang paling dimengerti.
Tapi yang bisa bilang:
Biarin aja.
Itulah Let Them.
Biarin mereka salah paham.
Biarin mereka menertawakan, meremehkan, atau merasa lebih benar.
Biarin mereka merasa kamu terlalu sensitif, terlalu keras, terlalu aneh, terlalu sunyi.
Toh, kamu yang tahu medanmu sendiri.
Kalau kamu bertahan lebih lama, Ibu mungkin akan mengulang ini setiap hari:
“Let them, Nak.”
Lalu kita akan duduk berdua dalam diam, membiarkan dunia bersuara sekeras yang ia mau,
sementara kita menjaga ketenangan yang tidak mereka pahami.
Kamu tidak tinggal lama, tapi cukup lama untuk membuat Ibu belajar membiarkan.
Dan itu, mungkin, salah satu cara Ibu menyelamatkan diri.
Dengan cinta yang tidak bersyarat,
Ibumu
Komentar
Posting Komentar