Untuk Laut, Anakku yang Tak Pernah Lahir
Laut,
Anakku yang hanya sebentar tinggal dalam rahim Ibu, tapi selamanya tinggal dalam hati Ibu.
Hari ini Ibu ingin bercerita. Bukan tentang pelukan hangat atau dongeng pengantar tidur. Tapi tentang luka. Tentang kehilangan. Tentang dua perempuan yang membuat hidup Ibu hancur, dan kenapa kamu, Laut, adalah satu-satunya yang ingin Ibu kenalkan sebagai keluarga.
Saat Ibu masih tiga tahun, ibu kandung Ibu pergi. Tidak dengan air mata, tidak dengan pesan, tidak dengan pelukan terakhir. Ia hilang begitu saja, seperti kabut yang menguap sebelum fajar. Tidak ada surat cerai, tidak ada kabar, tidak ada penjelasan.
Sepuluh tahun kemudian, ia muncul kembali sudah menikah lagi, dengan nama baru, dan hidup yang seolah tak pernah menyisakan tempat untuk Ibu. Saat itu, Ibu menyadari: ibu yang dulu Ibu cari-cari, sudah mati. Yang datang kembali hanyalah sosok asing dengan darah yang sama.
Ibu tumbuh bersama seorang kakak perempuan. Kami dulu bersama-sama menambal lubang di hati, saling menggenggam di antara dunia yang dingin. Tapi tak semua yang bersama akan terus searah. Dia memilih untuk berpihak kepada seseorang yang melukai hidup Ibu. Kekasihnya yang Ibu benci, yang pernah mematahkan Ibu, justru ia peluk.
Dan Ibu… Ibu tidak ingin pura-pura kuat. Tidak ingin jadi munafik yang menampakkan senyum seolah semuanya baik-baik saja. Karena tidak, Laut. Hidup Ibu pernah hancur. Dan dua perempuan itu adalah reruntuhannya.
Lalu kamu hadir, Laut. Kecil, tenang, dan hanya sebentar. 11 minggu di dalam tubuh Ibu, tapi cukup untuk membuat Ibu merasa berarti. Namun bahkan saat kamu hadir dan pergi, tidak ada satu pun dari mereka yang ada di sisi Ibu. Tidak ibu kandung Ibu. Tidak pula kakak Ibu.
Dan di titik itu Ibu tahu: Ibu telah memaafkan, tapi tidak ingin lagi berhubungan dengan mereka sampai maut mempertemukan kita di ujung dunia.
Kamu tahu, Laut, kadang memaafkan bukan berarti membuka pintu kembali. Tapi menutupnya rapat-rapat, menggemboknya, dan membuang kuncinya jauh ke laut barangkali ke tempat yang menyimpan namamu.
Ibu tidak akan mengenalkan mereka padamu. Tidak akan ada cerita tentang “nenek” atau “tante” dari sisi itu. Karena mereka tidak pernah benar-benar hadir untuk Ibu, apalagi untukmu. Ibu tidak ingin menanamkan pohon yang berakar dari luka.
Kalau suatu saat nanti kita bertemu lagi entah di mimpi, entah di langit yang tak punya batas dan kamu bertanya, “Siapa mereka?” Ibu akan genggam tanganmu dan berkata, “Mereka bukan siapa-siapa.”
Dan kamu, Laut, kamu adalah segalanya.
Dari Ibumu,
Yang sedang belajar bertahan tanpa berpura-pura.
Komentar
Posting Komentar