Tubuh Ibu
Laut, ibu mau cerita sesuatu yang mungkin kamu nggak pernah tau, karena kamu nggak sempat lahir, nggak sempat ngeliat dunia ini.
Setelah kamu pergi dari perut ibu, tubuh ibu ternyata nggak langsung baik-baik aja.
Ibu tetap harus melewati nifas,padahal ibu pikir nifas itu cuma buat ibu-ibu yang melahirkan bayi hidup.
Ternyata nggak.
Ibu yang kehilangan bayinya di sebelas minggu pun, tubuhnya tetap harus berdarah pelan-pelan,harus bersih-bersih sendiri, harus beresin semua yang tersisa.
Ibu waktu itu mikir, ya sudah, nanti nifas selesai, tubuh selesai, hati selesai.
Tapi ternyata nggak sesimpel itu.
Dua minggu habis nifas, ibu malah mens. Dan sekarang, ibu udah mens empat belas hari.
Ibu sendiri bingung, Laut.
Kenapa nggak cukup hati aja yang luka,
kenapa badannya juga ikut nggak mau selesai-selesai?
Kadang, Laut, ibu duduk sendiri,
megang perut, sambil mikir pelan-pelan,
“Badan, kamu kenapa? Udah, yuk. Istirahatlah sebentar.
Nggak usah cape terus, nggak usah berdarah terus.”
Tapi ya begitu, kan, Laut?
Tubuh sama hati itu nggak bisa dipaksa.
Dia punya waktunya sendiri.
Kadang ibu ngerasa cape, bukan cuma cape badan, tapi cape nunggu.
Cape nunggu pulih, cape nunggu biasa lagi, cape nunggu hari yang rasanya ringan.
Tapi ibu belajar pelan-pelan.
Belajar kalau tubuh ini cuma perlu ditemani, bukan dilawan.
Belajar kalau hati ini nggak harus buru-buru sembuh, cukup pelan-pelan aja,
asal ibu tetap jalan terus.
Hari ini, ibu masih mens.
Hari ini, hati ibu juga masih nyeri kadang-kadang.
Tapi hari ini juga, ibu masih di sini.
Masih mencoba, masih nyoba nafas pelan-pelan,
masih nyoba bilang ke diri sendiri,
“Nggak apa-apa. Pelan-pelan aja.”
Laut, terima kasih ya.
Meskipun kamu nggak ada di sini, kamu tetap bikin ibu belajar banyak hal: tentang sabar, tentang tubuh, tentang luka, tentang jalan yang panjang.
Pelan-pelan aja ya, Laut.
Ibu masih di sini. Masih nyoba. Masih pelan-pelan.
Komentar
Posting Komentar