Tentang Keberanian yang Tidak Selalu Berarti Teriak Lantang

Untuk Laut, yang tidak sempat tumbuh, tapi selalu cukup untuk diberi cerita.


Laut,

Kalau saja kamu tumbuh besar, mungkin kamu akan merasa heran:

“Kenapa ibu dan ayah bisa bareng, padahal beda banget?”

Dan pertanyaan itu sah. Karena kenyataannya, kami memang dua orang yang tumbuh di tepi yang berbeda. Tapi diam-diam, kami punya fondasi yang sama: kami berdua tidak suka menjadi pusat perhatian, tapi tetap ingin sesuatu diperjuangkan.


Aku, ibumu bekerja dengan kata-kata. Aku hidup di antara tumpukan dokumen, catatan, dan kalimat-kalimat yang kadang terlalu rapat dalam kepala. Kadang aku harus bicara untuk orang lain yang tidak didengar. Kadang aku harus duduk di ruang yang terlalu dingin dan sunyi, tapi hatiku sibuk berdebat. Kadang aku membaca berjam-jam hanya untuk menemukan satu kalimat yang layak dipakai membela.


Ayahmu tidak bekerja dengan kata. Ia lebih sering diam, tapi di dalam diamnya, ada garis-garis yang bicara. Ia menyusun warna seperti aku menyusun argumen. Ia bisa menatap satu bidang kosong selama berjam-jam, lalu tiba-tiba tahu: “di sini harus ada merah.” Sering kali ia tidak tahu harus bicara apa, tapi tahu harus menggambar apa.


Kami pernah datang ke satu aksi bersama-sama. Aku berdiri di antara banyak orang, ikut mendengarkan tuntutan yang dibacakan. Ayahmu tidak jauh dariku, sibuk mengatur poster yang ia desain semalam suntuk. Kami tidak saling sapa. Tapi aku tahu dia memperhatikanku dari jauh, memastikan aku baik-baik saja. Dan aku pun begitu meskipun tidak menoleh, aku tahu ia di sana.


Saat semua orang meneriakkan yel-yel, aku ikut setengah hati bukan karena tidak sepakat, tapi karena tenggorokanku memang lebih biasa bicara pelan. Ayahmu malah tidak ikut bersuara sama sekali. Tapi ia membawa gambar besar yang ia pegang tinggi-tinggi. Dan kadang, Laut, satu gambar yang diangkat diam-diam bisa lebih berani dari satu paragraf orasi.


Lalu malamnya, kami pulang ke rumah. Kami tidak bicara soal hari itu. Hanya duduk di ruang kerja, masing-masing dengan dunianya. Aku mengetik. Ia menggambar. Sesekali kami saling bertanya: “kopi atau teh malam ini?” Itu saja. Tapi di balik percakapan kecil itu, ada dua orang yang saling menjaga agar tetap waras di dunia yang suka bicara terlalu keras.


Instagram kami pun seperti cermin dari cara kami menjalani hidup.

Instagram-ku isinya hitam putih. Penuh tulisan panjang. Caption yang lebih mirip esai. Ada potret protes, cuplikan berita, dan kutipan yang tidak laku dijual.

Instagram ayahmu? Penuh warna. Lingkaran, garis, tekstur. Judul lukisan, tahun, ukuran kanvas. Itu saja.

Dan kalau kamu bertanya kenapa, aku pun pernah bertanya.

Katanya, “Soalnya kamu udah nulis cukup panjang buat kita berdua.”

Dan jawaban itu saja sudah cukup jadi pelukan.


Kami sangat berbeda, Laut. Tapi kami sama-sama mencoba memahami dunia dengan cara yang tidak terlalu ribut. Dan itu pun bentuk keberanian.


Kalau saja kamu hadir, kamu tidak perlu memilih akan jadi seperti siapa.

Kamu bisa seperti siapa pun. Atau tidak seperti kami dua-duanya.

Kamu bisa menemukan caramu sendiri. Dan kamu akan tetap kami peluk.


Karena keberanian tidak selalu berarti bicara keras-keras. Kadang ia hadir dalam memilih kata yang tepat. Dalam tidak ikut-ikutan ketika semua orang ingin tampil. Dalam menyimpan satu pendapat yang tidak disukai, tapi tetap kamu jaga karena kamu tahu itu penting.


Kami tidak selalu punya panggung, Laut. Tapi kami punya ruang-ruang kecil yang kami rawat, untuk tetap berkata meski pelan, meski sebentar.


Dan kamu, meskipun tidak pernah ada di dunia ini, tetap kami doakan jadi seseorang yang berani. Berani jadi apa pun. Bahkan kalau itu hanya jadi sepotong sunyi yang tahu cara mendengar.


Dengan cinta yang tidak selesai-selesai,

Ibumu.


Komentar

Postingan Populer