Puisi untuk Laut
Ayahmu senyap, ibumu pelan,
tapi kami tumbuh tanpa harus lantang.
Ia menggambar garis dengan tangan tenang,
aku menyusun kata di malam yang panjang.
Kami datang dari ujung yang berbeda,
tapi sama-sama takut bicara sia-sia.
Ia bicara lewat warna di kanvas tua,
aku membela lewat kalimat yang patah-patah.
Di jalan, aku berjalan dengan dada penuh,
ia menyusup membawa spanduk yang utuh.
Aku diam-diam menggenggam nadi,
ia diam-diam menjagaku dari sisi.
Di rumah, kami tak banyak berkata,
hanya bertukar pandang dan secangkir rasa.
Aku mengetik luka yang tak sempat reda,
ia menutupnya dalam lingkar warna.
Instagram kami dua musim yang berlalu,
punya bentuk dan cara yang tak serupa.
Caption-ku berbaris bagai gelombang ragu,
caption-nya sunyi: ukuran dan judul saja.
Kami tak butuh panggung, tak minta sorak,
cukup ruang kecil tempat pulang tak retak.
Keberanian kami tidak berdentum keras,
ia datang dalam setia yang tidak lepas.
Dan jika kau bertanya, Laut yang tak jadi,
“Siapa aku harus jadi nanti?”
Maka biarlah kami jawab perlahan sekali:
Jadilah siapa pun, bahkan bila hanya
sepotong sunyi
yang tahu
cara mendengar.
Komentar
Posting Komentar