Malam Ini, Kita Kirim Doa untuk Kakak Perempuan Ibu.

 Laut, mari kita duduk sebentar. Tarik napas pelan-pelan, rasakan malam yang diam, dan mari kita kirim doa untuk kakak perempuan ibu.


Ibu tahu, kamu mungkin bertanya-tanya: kenapa ibu masih berdoa untuk seseorang yang kadang tak benar-benar hadir untuk ibu? Kenapa ibu tetap menggenggam serpihan harap, meski tak selalu ada genggaman balik?


Begini, Laut. Karena begitulah cara hati bekerja. Kadang kita tak berdoa hanya untuk orang yang selalu ada, tapi juga untuk mereka yang kita harap bisa ada, untuk mereka yang sedang berjalan di jalannya sendiri, mencari bahagianya sendiri, meski jalannya kadang tak sejajar dengan kita.


Malam ini, ibu berdoa semoga kakak perempuan ibu selalu baik-baik saja. Semoga keinginannya membangun keluarga bukan hanya soal mimpi indah yang digantung di langit-langit, tapi juga soal tangan yang mau bekerja, hati yang mau merawat, kaki yang mau melangkah sabar. Semoga dia belajar bahwa keluarga itu bukan hanya soal menikah dan punya anak, tapi tentang mencintai, menjaga, dan hadir bahkan ketika tak ada yang meminta.


Laut, kamu mungkin tak pernah lahir ke dunia ini, tapi ibu percaya kamu mendengar. Kamu tahu, meski kita cuma duduk di ruangan gelap, di dunia yang sepi tanpa suara, doa-doa kita tetap punya sayap. Mereka melayang, menembus dinding-dinding yang tak kelihatan, merayap pelan ke hati-hati yang jauh.


Malam ini, ibu tidak minta banyak. Ibu cuma ingin kebaikan selalu berputar di sekeliling kakak perempuan ibu. Ibu ingin dia menemukan cahaya yang dia cari. Dan di antara angin malam yang lembut, ibu bisikkan juga: semoga suatu hari dia mengerti, bahwa kasih itu bukan soal punya, tapi soal memelihara.


Jadi, mari kita kirim doa ini, Laut.

Dengan pelan, tapi penuh. Kita lepaskan ke malam, biar angin yang membawa.

Dan seperti semua doa yang tulus, kita bisikkan di ujungnya, pelan-pelan:

amin.



Komentar

Postingan Populer