Laut, Tentang Kantor yang Tak Pernah Megah Tapi Penuh Suara
Laut,
ibu pernah bekerja di sebuah rumah yang disebut kantor.
Rumah biasa, pintunya engselnya longgar, temboknya berdebu, kursinya kadang bunyi berderit kalau kau terlalu jujur duduk di atasnya.
Di sana ibu datang dengan rambut yang diikat seadanya, dengan jeans robek, flanel yang baunya sudah seperti kopi dan rokok yang menikah terlalu lama.
Ibu bawa ransel, penuh berkas yang bukan milik ibu, tapi ingin ibu perjuangkan seolah-olah milik sendiri.
Karena kalau bukan siapa-siapa yang peduli,
harus ada satu orang yang tetap tinggal.
Laut,
di rumah itu, ibu bisa merokok di mana saja.
Bukan karena bebas, tapi karena tak ada yang merasa perlu menertibkan kebebasan orang yang sedang mencari keadilan.
Ibu duduk di Kamisan,
di seberang istana yang tinggi dan diam,
bersama yang lain, berbaju hitam, memegang payung, dan memilih untuk tidak bicara
agar suara mereka lebih keras dari kita.
Ibu berdiri di tengah jalan
di antara gas air mata dan suara toa.
Datang bukan untuk ikut teriak, tapi untuk mencatat siapa yang dijerat. Supaya kalau malamnya hilang, besok paginya ada yang mencari namanya.
Ibu datang ke penjara,
bukan untuk menghakimi, tapi mendengarkan.
Ada orang-orang yang salah ditangkap,
salah dilihat, salah ditulis dalam berita.
Tapi mereka tetap manusia.
Dan manusia, Laut,
selalu layak didengar.
Pernah satu kali, ibu bantu anak muda
yang hanya berdiri memegang poster
dan dituduh makar.
Kami cari dia dari Polres ke Polsek,
dengan motor yang mogok di tengah jalan.
Kami antar nasi bungkus ke selnya, sambil nyaris ditolak oleh petugas yang lebih percaya pada surat dinas dari pada belas kasih.
Kami tulis legal opinion di tengah malam dengan lampu seadanya. Kami pakai kata-kata
untuk melawan sistem yang lebih suka diam
dari pada mendengar.
Dan pernah, Laut, ibu muda datang ke rumah itu, perutnya besar, matanya bengkak.
Dipukul, diusir, tak diterima.
Kami duduk dengannya, bukan sebagai penasihat hukum, tapi sebagai saksi bahwa luka itu benar ada.
Kami bantu buat laporan ulang, urunan beli perlengkapan bayi, dan berjaga sampai ia cukup kuat untuk menamainya sendiri.
Di rumah itu, ibu tidak dibayar mahal.
Tidak ada lift.
Tidak ada kaca besar yang memantulkan bayangan ibu.
Tapi di rumah itu, Laut,
ibu merasa paling terlihat.
Paling nyata.
Paling hidup.
Karena di rumah itu,
setiap cerita yang datang bukan sekadar perkara.
Tapi nyawa yang bilang: “Tolong, dengarkan aku.”
Dan ibu, sebisa yang ibu mampu,
selalu mencoba jadi telinga yang tak buru-buru menutup.
Kalau kelak kau bertanya,
apakah ibu pernah mencintai pekerjaannya?
Ibu akan bilang:
ya.
Tapi bukan karena gaji, bukan karena jabatan,
tapi karena di rumah itu ibu belajar cara mencintai dunia, meski dunia tak selalu mencintai balik.
Komentar
Posting Komentar