Laut, Tahu Nggak, Ada Teman Ayah di Kantor..
Laut,
kamu mungkin tidak sempat melihat dunia ini. Tidak sempat merasakan hangatnya pagi atau suara hujan pertama yang turun ke jendela apartemen kita. Tapi di kepala Ibu, kamu hidup dalam bentuk yang paling tenang. Kadang Ibu membayangkan kamu berlari kecil di koridor, mengetuk pintu balkon, minta dibukakan karena kamu ingin lihat hujan. Padahal Ibu tahu, kamu tak pernah sampai di titik itu.
Tapi membayangkanmu tetap membuat Ibu bertahan.
Hari ini Ibu melihat sesuatu. Bukan hujan, bukan langit yang berubah warna. Tapi sesuatu yang diam-diam bikin Ibu takut. Tentang manusia, tentang laki-laki, tentang dunia yang tidak selalu tahu cara menjaga kepercayaan.
Ada teman Ayah di kantor. Lelaki. Ibu enggak kenal dekat, Ayah pun hanya sebatas tahu. Orangnya sering terlihat lelah. Katanya bosnya keras. Kerjaannya banyak. Bebannya tak selesai-selesai. Dia sering cerita betapa capeknya jadi pekerja.
Sampai suatu hari, dia bilang ingin cuti. Istirahat, katanya. Tapi paginya dia tetap ke kantor. Katanya cuma mau beresin kamera mungkin semacam urusan dokumentasi. Tapi entah kenapa ada yang terasa ganjil. Dan malamnya, Ibu lihat dia di lapangan tenis apartemen kita. Ya, di bawah sini. Di tempat yang seharusnya jadi tempat paling netral dan biasa.
Dia tidak sendiri. Ada beberapa perempuan bersamanya. Teman sekantor juga, sepertinya. Mereka tertawa, berlari kecil, dan berpakaian seperti atlet yang sedang ingin diperhatikan. Sementara di rumahnya Ibu yakin ada istri yang sedang menjaga rumah, mungkin juga anak yang menunggu peluk.
Laut,
Ibu bukan sedang ingin menghakimi. Tapi Ibu sedih. Dan takut. Bukan karena Ayah seperti itu, Ayah tidak. Ayah masih pulang tepat waktu, masih duduk di sebelah Ibu setiap malam, masih mengisi hari-hari Ibu dengan tawa yang tulus dan letih yang nyata. Tapi Ibu tahu betul, manusia adalah makhluk paling mudah tergelincir, apalagi jika sekitarnya sibuk memberi alasan untuk melompat.
Dan hari itu, Ibu merasa takut. Bukan takut karena ada yang terjadi. Tapi karena tahu, sesuatu bisa saja terjadi kalau kita tidak cukup menjaga.
Ibu jadi banyak berpikir tentang kepercayaan. Tentang bagaimana sesuatu yang rapuh itu justru jadi fondasi dari banyak hal. Tentang bagaimana Ibu bisa mempercayai Ayah sepenuhnya, bukan karena Ayah sempurna, tapi karena Ayah selama ini selalu pulang. Selalu jujur. Selalu hadir. Tapi tetap saja, kadang Ibu takut.
Ibu takut karena Ibu melihat sendiri betapa mudahnya orang tergelincir ketika dunia terlalu permisif. Betapa tipisnya batas antara “lelah” dan “cari pelarian.” Antara “teman kantor” dan “teman yang terlalu sering satu frame.” Dan yang paling Ibu takuti, Laut: betapa licinnya jalan menuju pengkhianatan yang dibungkus dengan kata-kata sederhana cuma beresin kamera, cuma olahraga sebentar, cuma ngobrol sebentar lagi, kok.
Ibu bukan perempuan yang kuat setiap hari. Ada hari-hari di mana Ibu merasa kecil sekali, seperti bisa hancur hanya karena mimpi buruk, atau karena senyum seseorang yang seharusnya tidak ada di foto siapa-siapa. Tapi justru di saat-saat seperti itu, Ibu sadar: kepercayaan itu bukan milik yang pasif. Ia harus dijaga. Diperjuangkan. Dilindungi seperti anak kecil yang tertidur di pelukan.
Laut,
kamu mungkin tidak akan pernah tumbuh besar di dunia ini. Tapi kalau saja kamu sempat hidup, sempat jatuh cinta, sempat belajar mencintai seseorang Ibu ingin kamu tahu: menjadi orang yang bisa dipercaya adalah bentuk cinta yang paling dasar. Jangan pernah bilang mencintai seseorang kalau masih menyimpan pintu-pintu kecil yang cuma kamu tahu. Jangan bicara tentang rumah, kalau kamu masih menyiapkan jalan keluar diam-diam.
Kepercayaan itu seperti kamu dulu, Laut. Lembut, sunyi, tapi sangat berarti. Kehadirannya menenangkan, kehilangannya menyisakan lubang yang bahkan waktu enggan menambalnya.
Hari ini, Ibu cuma ingin Ayah selalu pulang. Pulang dengan tubuh lelah yang setia. Pulang dengan niat yang utuh. Pulang dengan segala yang tidak perlu disembunyikan.
Komentar
Posting Komentar