Laut, mari kita bicara tentang Kevin si timun laut

Laut,

ada satu lagi cerita yang ingin ibu bagikan. Tentang Kevin.

Seekor kucing kecil sangat kecil yang tubuhnya bahkan lebih ringan dari segenggam tangan.


Waktu itu aku dan ayahmu sedang berjalan di dekat vihara, tak jauh dari rumah masa kecil ayahmu. Di depan pintu masuk, ada suara lirih yang memanggil-manggil. Seperti sedang mencari sesuatu yang penting. Kami menoleh dan melihatnya: seekor anak kucing hitam legam, tubuhnya mungil, matanya berkaca-kaca, suaranya serak karena terlalu sering memanggil.


Dia sedang mencari ibunya.

Tapi tak ada siapa pun. Hanya suara mobil, udara panas, dan dinding batu.

Kami menunggu. Lama. Berharap ibunya akan datang. Tapi tidak ada yang muncul.


Sampai akhirnya seorang tetangga lewat dan berkata,

“Ambil aja, Mbak. Itu dari kemarin teriak-teriak di situ. Ibunya gak tahu ke mana.”


Jujur saja, rasanya sesak. Karena kami tahu tempat tinggal kami kecil.

Kami bahkan sedang belajar hidup bersama, menata ruang yang seadanya, dan belum memikirkan untuk menambah satu nyawa baru. Tapi juga rasanya tak sanggup membiarkannya sendiri meninggal tanpa peluk, tanpa suara yang menenangkannya.


Jadi kami bawa pulang dia.

Kami namai dia Kevin. Entah kenapa, nama itu langsung muncul begitu saja.

Dan karena bentuk tubuhnya kecil, panjang, dan lembut seperti jelly laut… kami kadang memanggilnya: Kevin si timun laut.


Seperti Tofu, Kevin minum susu kambing. Tapi Kevin jauh lebih kecil. Lebih ringkih. Butuh lebih banyak pelukan, pengawasan, dan doa.


Selama satu bulan penuh, aku merawatnya. Di apartemen kecil yang menjadi rumah darurat kami. Tiap hari aku bangun untuk memeriksa napasnya. Menyusuinya perlahan. Mengusap bulu halusnya dengan harapan tubuhnya hangat dan hatinya tahu: dia tidak sendirian.


Tapi suatu pagi, Kevin berpulang.

Begitu cepat. Seperti daun jatuh yang bahkan tak sempat menyentuh tanah.


Aku hancur. Menangis lama. Terlalu lama.

Dan rasanya sangat bersalah. Seperti tidak cukup menjaganya. Seperti gagal jadi pelindung untuk nyawa kecil yang memilih datang ke hidup kami.


Tapi, Laut, sekarang ibu belajar pelan-pelan:

Cinta itu bukan soal berapa lama kita punya sesuatu,

tapi bagaimana kita mencintainya selama dia ada.

Dan Kevin…

Kevin pernah punya rumah.

Pernah dipanggil dengan nama.

Pernah diselimuti jaket dan pelukan.

Dan pernah jadi anak kecil yang kami tunggui tidur, setiap malam, di pojok ruangan paling sunyi.



Komentar

Postingan Populer