Laut, ini cerita yang harus kamu dengar.
12 Mei adalah tanggal yang membawa dua kenangan berbeda bagi kita.
Di satu sisi, itu adalah hari kelahiran Bunda, ibu dari ayahmu. Sebuah hari yang selalu dipenuhi dengan tawa, kue ulang tahun, dan kebahagiaan sederhana dari keluarga kita.
Tapi ada cerita lain di tanggal ini, Laut cerita yang tak seharusnya dilupakan.
12 Mei 1998, puluhan tahun sebelum kamu tak sempat lahir, adalah hari yang berbeda. Hari itu, di depan kampus tempat ibu dan ayah dulu belajar, empat mahasiswa ditembak di jalan. Mereka adalah Elang, Heri, Hafidin, dan Hendriawan. Mereka tewas dalam upaya mereka menuntut perubahan. Mereka adalah bagian dari mereka yang berjuang, yang berani melawan, meski tahu nyawa mereka taruhannya.
Kampus tempat ibu dan ayah lulus, Trisakti, bukanlah sekadar tempat belajar. Itu adalah tempat yang menyimpan banyak luka terutama pada 12 Mei.Ibu lulus dengan gelar Sarjana Hukum (SH) dari sana, tempat di mana banyak dari kami belajar tentang hukum dan keadilan. Ayah, dengan gelar Seni Desain (SD.S) dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), juga datang dari kampus itu, di mana seni dan kreativitas bertemu dengan pertanyaan tentang perubahan sosial. Kami berdua, meski dengan jurusan yang berbeda, selalu tahu bahwa kampus itu bukan hanya tempat yang mengajarkan ilmu, tapi juga tempat yang menyimpan sejarah penuh darah dan mimpi yang tak sempat diwujudkan.
Laut, 12 Mei adalah tanggal yang tak hanya dikenang sebagai ulang tahun Bunda, tapi juga sebagai luka yang masih menganga. Sejarah tidak selalu indah, dan terkadang ia tertutup rapat oleh waktu yang terus berjalan, tapi kami ingin kamu tahu, agar kamu bisa mengingatnya agar kamu tahu bahwa reformasi, yang kita nikmati hari ini, dibayar dengan darah mereka yang berani menuntut perubahan.
Ibu ingin kamu tahu, Laut, bahwa mereka yang tewas di depan kampus itu adalah bagian dari cerita yang harus kamu kenal. Mereka bukan hanya nama yang muncul di peringatan tahunan. Mereka adalah bagian dari keluarga besar kita, meskipun mereka tak pernah sempat bertemu dengan kita.
Sejarah kita penuh luka, dan luka-luka ini hanya bisa sembuh jika kita mengingatnya. Tidak hanya di buku sejarah atau dalam upacara yang formal. Tetapi dalam cara kita hidup hari ini, dalam cara kita berbicara tentang keadilan dan kebenaran.
Jangan lupa bahwa tubuh-tubuh yang jatuh di 12 Mei itu adalah tubuh-tubuh yang memperjuangkan hak yang kita nikmati sekarang. Dan meskipun mungkin dunia seakan terus bergerak, ingatan itu tentang mereka harus terus kita jaga.
Komentar
Posting Komentar