Laut, Hari Ini Hujan

Laut,

hari ini hujan turun tepat saat jam makan siang.

Langit tiba-tiba kelabu, lalu menitikkan air seperti sudah sepakat bahwa kota ini butuh jeda.

Dan seperti biasa, aku duduk di ruang kerjaku yang besar dan dingin, memandangi jendela kaca yang mulai dihiasi garis-garis air.


Aku suka hujan.

Bukan karena romantisnya, bukan karena aroma tanah basahnya saja, tapi karena hujan selalu tahu caranya membuat semua orang melambat.

Termasuk aku.

Di hari biasa, pikiranku terlalu ramai pasal, perkara, pengadilan, orang-orang yang datang padaku dengan wajah penuh luka.

Tapi saat hujan, ada ruang kosong yang terbuka di dalam kepala.

Seperti panggung sunyi di mana aku boleh rehat dari peran sebagai “yang tahu segalanya.”


Kantor tempatku bekerja bukan tempat orang datang dengan senyuman.

Hampir semua yang duduk di hadapanku membawa masalah, trauma, kemarahan, atau rasa tak adil yang mereka tak tahu harus ditaruh di mana.

Dan aku dipercaya menjadi juru bicara dari semua itu.

Kadang rasanya seperti menjadi corong bagi dunia yang tak pernah benar-benar adil.


Tapi saat hujan, aku merasa… lebih manusia.

Lebih dari sekadar profesi, lebih dari sekadar pengacara.

Aku jadi perempuan yang diam-diam menatap langit dari balik kaca, yang membiarkan hujan bicara lebih banyak daripada aku sendiri.

Hujan membuat semuanya terasa lebih jujur.


Dan entah kenapa, saat hujan turun, aku sering membayangkan ada yang duduk di sampingku.

Tak bicara, hanya menemani.

Seperti kamu, Laut.

Bukan sebagai luka, tapi sebagai ketenangan yang pernah singgah.


Aku selalu punya kelemahan pada langit yang murung dan hujan yang jatuh diam-diam.

Mungkin karena di tengah derasnya, aku tak perlu berpura-pura kuat.

Hujan tak menuntut apa-apa.


Hari ini aku bekerja seperti biasa.

Tapi dengan jendela basah dan udara dingin, semuanya terasa sedikit lebih pelan.

Dan dalam jeda itulah, aku merasa hidup.


Komentar

Postingan Populer