Laut, Aku Mau Kamu Mendengar Cerita Ibu

 Laut, aku ibumu.

Hari ini aku ingin duduk diam,

dan menceritakan padamu sesuatu yang lama aku simpan.

Sesuatu yang menempel di tubuh kecilku dulu,

dan ikut tumbuh bersamaku,

sampai hari ini.


Sejak kecil, aku selalu dibandingkan.

Orang-orang bilang, kakak perempuanku lebih baik,

lebih tenang, lebih sopan, lebih bisa diandalkan.

Aku?

Aku anak kedua,

anak yang katanya terlalu berisik, terlalu keras, terlalu manja.


Aku ingat betul, Laut,

aku dulu belum bisa membaca,

bukan karena aku bodoh,

tapi karena aku tidak pernah masuk TK seperti kakakku.

Saat aku berusia tiga tahun, mamah pergi.

Tidak ada yang mengantar.

Tidak ada yang menunggu di depan kelas.

Tidak ada yang bilang, “Pelan-pelan belajar ya, nak.”

Sementara kakakku, dia punya semua itu.

Ada tangan yang menuntunnya,

ada ruang yang menunggunya.


Jadi ketika orang membandingkan kami, mereka lupa bahwa kami sudah mulai dari tempat yang berbeda.


Sampai aku besar, aku terus saja dibandingkan.

Bahkan ketika aku belajar menulis,

yang pertama kali bilang, “Tulisanmu jelek,”

adalah kakak perempuanku sendiri.

Dan sejak itu, setiap kali aku menulis,

aku merasa perlu minta maaf:

“Maaf ya, tulisanku jelek.”

Padahal aku hanya ingin bisa menulis bebas,

tanpa takut dinilai, tanpa takut salah.


Waktu aku dewasa, kakakku punya teman.

Temannya punya anak yang dibawa ke dokter,

karena dokter bilang anak itu lambat belajar.

Dengan mudahnya, kakakku berkata,

“Dulu kamu juga begitu.”

Satu kalimat kecil, yang jatuh seperti batu di punggungku yang sudah lelah memikul.


Tapi, Laut, di tengah semua itu,

ada satu orang di dunia ini yang selalu melihatku,

selalu percaya padaku.

Papah.

Papah satu-satunya yang bilang aku anak baik.

Yang memandangku dengan mata penuh sayang.

Yang bilang aku cukup, aku bisa, aku baik.

Sekarang papah sudah tidak ada.

Dan kadang aku merasa, satu-satunya orang yang percaya aku baik sudah hilang dari dunia ini.


Laut, aku tidak akan melakukan itu padamu.

Aku tidak akan membuatmu merasa kamu harus seperti siapa-siapa.

Aku tidak akan membandingkanmu.

Aku tidak akan menunggu kamu jadi anak yang lebih tenang, lebih rapi, lebih manis, lebih pintar, lebih apa pun. Kamu hanya perlu jadi kamu.


Kalau kamu mau berantakan, berantakanlah.

Kalau kamu mau ribut, ributlah.

Kalau tulisanmu jelek, tak apa.

Ibu akan selalu ada di sampingmu.

Aku akan bilang,

“Tidak apa-apa, sayang. Kamu cukup. Kamu baik.”


Luka ini, biarlah berhenti di ibu.

Agar kamu, Laut,

bisa tumbuh ringan,

tumbuh tanpa beban yang tidak pernah kamu minta,

tumbuh dengan tahu, tanpa ragu,

bahwa kamu dicintai.

Hanya karena kamu ada.


Aku sayang kamu, Laut.

Selalu.


Komentar

Postingan Populer