Laut, aku ingin bercerita tentang Upa

Laut,

aku ingin bercerita tentang Upa.

Seekor kucing yang bukan sekadar kucing. Tapi teman hidup ibumu, dulu. Waktu tinggal di sebuah tempat yang tidak bisa disebut rumah karena meski ada atap, tak ada kehangatan. Meski ada orang, tak ada pelukan. Tempat itu hanya tempat berteduh. Tempat bertahan hidup.


Dan di tengah semua itu, datanglah Upa.


Nama lengkapnya Cupa, tapi aku lebih suka memanggilnya Upa. Bulu putih mendominasi tubuhnya, dengan semburat hitam di beberapa bagian. Kakinya hanya tiga. Yang satu hilang karena kebengisan manusia. Tapi kamu tahu, Laut? Upa tetap berjalan. Tetap manis. Tetap datang padaku, setiap hari, seolah-olah tak pernah kehilangan apa pun.


Dia tidur di kamarku. Duduk di dekatku. Melihatku menangis, marah, diam. Dia tak pernah bertanya, tapi selalu tahu. Tak pernah bicara, tapi kehadirannya menjawab hal-hal yang tak sanggup kuucapkan.


Kami hanya berpisah saat aku pergi kuliah. Sisanya, aku dan Upa adalah dua makhluk yang saling menjaga diam-diam. Mungkin karena kami sama-sama patah. Sama-sama mencoba utuh, tanpa suara.


Upa bukan hanya hewan peliharaan. Dia temanku. Penolongku. Tempatku belajar apa itu setia. Apa itu kasih yang tak bersyarat. Dia mengajariku mencintai dengan tenang, tanpa syarat, tanpa pamrih.


Upa sudah tidak ada di dunia ini, Laut. Tapi dia belum benar-benar pergi. Ada bagian dari jiwaku yang masih memeluknya setiap malam. Masih bisa merasakan kehangatan bulunya. Masih berharap bisa mendengar dengkur kecilnya di kaki ranjang.


Dan suatu hari nanti, ketika saatnya tiba, aku akan berkumpul lagi dengan Upa. Di tempat yang lebih damai dari rumah mana pun. Tempat yang mungkin tidak punya nama, tapi penuh kehadiran yang tulus. Dan kamu juga akan ada di sana, Laut. Dalam caramu yang hening dan tak tergambarkan.


Di sana, kita akan bersama.

Aku, kamu, dan Upa.

Tiga jiwa yang tahu betul apa artinya mencintai dalam senyap.


Komentar

Postingan Populer