Ke Laut
Hari ini aku dapat klien.
Sepasang suami istri yang ingin berpisah setelah dua puluh tahun menikah.
Mereka duduk di ruangku sebagai dua orang dewasa yang lelah, bukan sebagai musuh.
Katanya, seharusnya perceraian ini sudah terjadi bertahun-tahun lalu tapi mereka menundanya, demi anak-anak.
Demi menjaga rumah tetap utuh sampai waktunya semua anak tumbuh,dan pergi membawa hidup mereka masing-masing.
Mereka tidak menangis.
Tidak saling menyalahkan.
Mereka hanya ingin berpisah dengan baik.
Dan aku, mencatat semuanya.
Mendengarkan dengan tenang.
Mengatur ulang perjanjian, harta, hak asuh.
Membuat batas-batas hukum dari sesuatu yang dulu pernah disatukan oleh cinta.
Tapi di tengah semua itu,
ada kamu, Laut.
Aku teringat kamu saat mereka bercerita tentang anak.
Tentang menunggu waktu yang tepat agar tidak melukai mereka.
Tentang membungkus perpisahan dengan logika.
Dan aku diam-diam bertanya dalam hatiku apa yang akan aku lakukan,
kalau kamu masih ada?
Kamu hidup di tubuhku selama sebelas minggu.
Sebelas minggu di mana aku tidak pernah menjadi lebih lengkap dari sebelumnya.
Dan lalu kamu pergi sunyi, tanpa suara, tanpa sebab yang bisa kugugat.
Tidak ada pasal untuk kehilanganmu.
Tidak ada mediasi.
Tidak ada pembagian hak atas rindu yang kini sepenuhnya jatuh padaku.
Hari ini aku bekerja seperti biasa.
Mengatur hidup orang lain agar tidak saling melukai lebih lama.
Tapi aku sendiri masih belajar menerima bahwa tidak semua yang pergi bisa kuatur waktunya.
Tidak semua yang hilang bisa kupetakan sebab-akibatnya.
Laut, kamu tidak pernah sampai di pangkuanku,
tapi kamu tinggal di dadaku
sebagai kehilangan yang kuterima tanpa tanda tangan.
Komentar
Posting Komentar