Hutan Kecil di Jendela, dan Laut yang Tak Jadi Pulang.

Sejak dulu, aku menyukai pohon.

Di apartemen kecil kami, mereka tumbuh seperti teman lama: sabar, diam, dan setia. Ada yang memanjat ke arah langit lewat rak buku, ada yang bertahan rendah di sudut lantai, tetap hijau walau hari-hari tak selalu cerah. Mereka bukan sekadar hiasan pohon-pohon itu seperti perpanjangan dari napasku sendiri.

Lalu suatu hari, aku tahu aku hamil.

Dalam rahimku, tumbuhlah kehidupan kecil. Ia belum bernama, belum sempat kulihat wajahnya, tapi aku memanggilnya Laut. Karena begitulah rasanya: dalam, bergelombang, tenang sekaligus penuh daya. Sebelas minggu dia hidup bersamaku. Sebelas minggu yang lembut dan sunyi, di mana aku menyimpan harapan dalam tubuhku sendiri. Sampai akhirnya Laut harus pergi, sebelum sempat menyapa dunia.

Hari-hari setelahnya sunyi. Tapi perlahan, dunia mulai berbicara lagi dengan cara yang tak selalu lewat kata.

Sahabat-sahabatku datang, tak dengan pertanyaan, tapi dengan sesuatu yang lebih dari penghiburan: tanaman.

Dua sahabat perempuanku menghadiahkan empat kaktus kecil mungil, berduri, dan manis. Kaktus itu kini duduk tenang di rak jendela. Mereka seperti penjaga kecil dari ingatan yang rapuh. Kuat dalam diamnya. Seolah mereka berkata, “Kami tak butuh banyak air, hanya cahaya. Seperti kenanganmu akan Laut.”

Dan satu hari yang hening, sahabat laki-lakiku datang membawa sebuah pohon berdaun pink, yang kini menjadi bagian dari hutan kecil kami. Daunnya indah sekali paduan warna hijau dan merah muda yang seolah menyimpan sesuatu yang lembut dan cerah sekaligus. Pohon itu sekarang tinggal di meja bundar, dikelilingi oleh buku, gitar, dan tentu saja, pohon-pohon lama yang sudah lebih dulu tumbuh bersamaku.

Aku tak tahu apa yang sahabat-sahabatku pikirkan ketika memilih tanaman-tanaman itu. Tapi aku merasa mereka tahu. Bahwa dalam kehilangan, kadang kita tak butuh jawaban. Hanya sesuatu yang bisa kita rawat. Sesuatu yang tumbuh perlahan, diam-diam menyembuhkan.

Lautku, kau tak sempat lahir di dunia, tapi kini kau tinggal di antara daun-daun, cahaya pagi, dan tanah yang hangat. Pohon-pohon ini tak menggantikanmu, tapi mereka menemaniku mencintaimu dengan cara baru: lewat tiap siraman, tiap daun baru, tiap pertumbuhan kecil yang tak terlihat dalam semalam.

Hidupku kini adalah hutan kecil. Penuh pohon, penuh cinta. Dan di dalamnya, selalu ada kamu.



Komentar

Postingan Populer