Cerita untuk Laut tentang Marsinah

Laut, aku ingin memberitahumu sesuatu yang mungkin sulit untuk dipahami, sesuatu yang hanya bisa terasa dalam diam, sesuatu yang seharusnya bisa kamu rasakan seandainya kamu ada di sini. Aku ingin cerita tentang seorang perempuan bernama Marsinah, yang keberaniannya menuntut hak, meski itu berarti melawan negara yang lebih besar darinya.


Marsinah adalah seorang buruh pabrik, Laut. Perempuan yang tak pernah mendapatkan penghargaan dari orang-orang di sekitarnya, tetapi keberaniannya tak pernah padam. Pada 5 Mei 1993, dia pergi ke Koramil, berhadapan langsung dengan militer, bukan untuk mencari masalah, tetapi untuk menuntut sesuatu yang sangat sederhana, keadilan. Marsinah tidak meminta lebih dari apa yang seharusnya menjadi haknya sebagai seorang buruh. Dia hanya ingin upah yang layak untuk pekerjaan yang telah dia kerjakan, untuk tubuhnya yang lelah, dan untuk hidup yang tidak ingin disia-siakan oleh keserakahan mereka yang berkuasa. Tapi, kamu tahu, Laut, negara tidak suka orang yang berani berkata “cukup.” Mereka takut pada orang yang tahu hak-haknya, mereka takut pada orang yang tidak bisa dibungkam.


Pada malam 8 Mei 1993, tubuh Marsinah ditemukan. Tubuh yang dibuang begitu saja hancur. Patah. Dipukul hingga mati, dengan kekerasan yang lebih kejam daripada kata-kata yang bisa gambarkan. Kelaminnya rusak, tubuhnya disiksa, dan setiap bagian dari dirinya yang layak dihormati, telah dihilangkan. Namun, di tengah kematian yang seharusnya bisa membuatnya dilupakan, Marsinah tetap ada. Ia tetap berbicara, meskipun tubuhnya sudah tidak ada lagi. Bahkan dalam kematian yang tragis, keberaniannya tetap hidup.


Laut, meskipun kamu tidak pernah hadir untuk mendengar cerita ini secara langsung, aku tahu kalau kamu akan bisa merasakannya. Keberanian, seperti yang ditunjukkan oleh Marsinah, bukanlah tentang kemenangan atau penghargaan. Keberanian bukan tentang siapa yang lebih kuat, atau siapa yang berhasil mengalahkan siapa. Keberanian adalah tentang berdiri tegak meski dihadapkan dengan ketakutan terbesar dalam hidup. Keberanian itu bisa datang dengan harga yang sangat tinggi, dan Marsinah tahu itu. Ia tahu betul bahwa perlawanan terhadap sistem yang tak adil bisa berarti kehilangan nyawa. Namun, ia memilih untuk tetap berdiri.


Aku ingin kamu tahu, Laut, bahwa meskipun kamu tidak sempat melihat dunia ini, keberanian seperti itu seperti yang dimiliki oleh Marsinah tetap bisa menyentuh siapa saja, bahkan yang tidak pernah tahu namanya. Keberanian yang tak bisa dilupakan, meskipun tubuhnya sudah dihancurkan. Keberanian itu adalah sesuatu yang lebih besar daripada tubuh yang bisa dimusnahkan. Ia adalah roh yang tak bisa dibunuh. Itu adalah roh yang terus berbicara meski diam-diam, yang tetap hidup dalam ingatan, dalam perlawanan, dalam setiap kata yang menuntut keadilan.


Mungkin kamu tidak perlu hidup seperti Marsinah, Laut. Tidak ada yang berharap kamu akan melalui hal-hal seperti yang ia alami. Tapi, kalau ada satu hal yang ingin aku wariskan padamu, itu adalah keberanian untuk tidak pernah diam ketika ketidakadilan datang mengetuk pintu. Keberanian untuk tidak menyerah pada ketakutan yang coba ditanamkan orang-orang yang ingin memadamkan suaramu. Keberanian untuk terus berjuang, meski dunia mencoba menghentikanmu. Itulah yang seharusnya kita wariskan bukan hanya untuk Marsinah, tapi untuk kita semua.


Marsinah mungkin tidak bisa menulis surat-suratnya kepada kita. Ia mungkin tidak sempat menuntut haknya dengan cara yang lebih lembut. Tapi dalam keheningan tubuhnya yang terbunuh, ia telah memberi kita pelajaran yang lebih dalam daripada kata-kata yang pernah bisa kami ucapkan. Keberanian tidak selalu datang dengan cara yang manis atau indah. Kadang ia datang dalam bentuk darah dan air mata. Dan meskipun dunia ini seringkali lupa, keberanian seperti itu tidak akan pernah hilang. Keberanian itu tetap hidup, dan kita yang harus melanjutkannya.


Aku berharap suatu hari nanti kamu bisa memahami ini, Laut. Keberanian yang datang dari perlawanan, dari suara yang tak pernah bisa dibungkam, bahkan oleh kematian itu sendiri. Keberanian yang lahir dari kesadaran bahwa meskipun kita sangat kecil di mata mereka yang berkuasa, kita tetap bisa membuat dunia ini sedikit lebih adil, sedikit lebih manusiawi.

Komentar

Postingan Populer