Cerita untuk Laut — dengan penjelasan buku.
Nak,
Meski kamu tak pernah lahir ke dunia ini, aku selalu membawa kamu di dalam setiap langkahku. Kehadiranmu bukan cuma soal kehilangan, tapi juga tentang bagaimana aku belajar hidup dalam ketidaksempurnaan ini.
Hari ini, aku pergi ke toko buku. Aku nggak cuma ingin membeli buku, tapi mencari sesuatu yang bisa menjadi teman, pengingat, dan penguat. Setelah berdiri lama di antara rak-rak yang penuh dengan cerita, aku memilih dua buku yang menarik perhatianku.
Pertama, Penghancuran PKI — buku ini bercerita tentang orang-orang yang dihancurkan bukan karena kesalahan mereka sendiri, tapi karena ide dan keyakinan yang berbeda. Membaca tentang mereka yang dijadikan kambing hitam membuatku merenung soal ketidakadilan dan bagaimana sejarah bisa membentuk hidup seseorang, bahkan jika mereka tak berdaya.
Kedua, Kamisan — buku yang mengangkat kisah orang-orang yang berdiri setiap minggu di depan Istana, menuntut keadilan untuk orang yang mereka cintai yang hilang tanpa jejak. Mereka tetap teguh, meski kenyataan seringkali begitu kejam dan penuh luka. Membaca itu membuatku belajar arti keteguhan, kesabaran, dan keberanian untuk terus mengingat, meski hati ini ingin melupakan.
Lucu ya, Nak, aku membawa pulang dua buku tentang kehilangan dan perjuangan dua hal yang diam-diam sudah menjadi teman harian ibu sejak kamu pergi. Buku-buku itu seperti suara-suara lain yang berbicara padaku, membantu ibu tetap bertahan dan terus melangkah.
Jadi saat aku berjalan pulang, aku membayangkan kamu di sampingku, diam-diam mendengarkan dan ikut bercerita. Aku janji, Nak, aku akan terus bercerita. Tentang kamu, tentang aku, tentang bagaimana kita bertahan dalam dunia yang kadang begitu keras.
Untukmu, Laut. Selalu.
Komentar
Posting Komentar