Celah Langit untuk Laut
Hai Laut,
Hari ini Ibu dan Ayah berjalan-jalan sore, ketika angin mulai pelan dan suara burung terdengar sayup. Kami berhenti di bawah dua pohon besar yang berdiri saling berhadapan, dahannya merambat dan daunnya menjuntai, seperti tangan-tangan yang mencoba saling meraih.
Kalau kamu ada di sini, Ibu yakin kamu akan menunjuk ke atas dengan mata bulatmu yang penasaran, lalu bertanya,
Dan Ibu akan tersenyum kecil, membelai rambutmu, lalu berkata,
Kadang manusia lupa, Nak. Lupa bahwa tidak semua harus dirapatkan, tidak semua harus dipenuhi, tidak semua harus digenggam erat-erat. Kadang kita berpikir, makin rapat makin hangat, makin dekat makin aman. Tapi ternyata, Laut, justru ruang kecil di antara kita lah yang bikin kita bisa bernapas.
Ibu dan Ayah belajar, lewat pohon-pohon ini, bahwa cinta juga begitu. Kami tidak harus selalu saling menempel seperti dua batang pohon yang melebur. Kami cukup saling berdiri, saling meneduhkan, saling mengulurkan dahan, tapi tetap membiarkan langit punya tempatnya. Supaya kita bisa saling melihat, tanpa kehilangan pandangan pada birunya hari. Supaya kita bisa saling menyayangi, tanpa kehilangan diri sendiri. Supaya suatu saat, kalau kamu hadir, kamu bisa tumbuh di bawah naungan itu dengan cukup ruang untuk bertanya, berlari, dan bermimpi.
Jadi, Laut, kapan pun kamu merasa ada yang “bolong” atau “kosong,” ingat ya, Nak: mungkin itu bukan kekurangan. Mungkin itu adalah jendela kecil yang memang disiapkan semesta, supaya kamu bisa melihat lebih jauh, lebih tinggi, lebih dalam.
Dengan peluk dari bawah pohon,
Hari ini Ibu dan Ayah berjalan-jalan sore, ketika angin mulai pelan dan suara burung terdengar sayup. Kami berhenti di bawah dua pohon besar yang berdiri saling berhadapan, dahannya merambat dan daunnya menjuntai, seperti tangan-tangan yang mencoba saling meraih.
Kalau kamu ada di sini, Ibu yakin kamu akan menunjuk ke atas dengan mata bulatmu yang penasaran, lalu bertanya,
“Ibu, kenapa pohonnya nggak saling menutup aja? Kenapa ada bolongnya di tengah?”
Dan Ibu akan tersenyum kecil, membelai rambutmu, lalu berkata,
Kadang manusia lupa, Nak. Lupa bahwa tidak semua harus dirapatkan, tidak semua harus dipenuhi, tidak semua harus digenggam erat-erat. Kadang kita berpikir, makin rapat makin hangat, makin dekat makin aman. Tapi ternyata, Laut, justru ruang kecil di antara kita lah yang bikin kita bisa bernapas.
Ibu dan Ayah belajar, lewat pohon-pohon ini, bahwa cinta juga begitu. Kami tidak harus selalu saling menempel seperti dua batang pohon yang melebur. Kami cukup saling berdiri, saling meneduhkan, saling mengulurkan dahan, tapi tetap membiarkan langit punya tempatnya. Supaya kita bisa saling melihat, tanpa kehilangan pandangan pada birunya hari. Supaya kita bisa saling menyayangi, tanpa kehilangan diri sendiri. Supaya suatu saat, kalau kamu hadir, kamu bisa tumbuh di bawah naungan itu dengan cukup ruang untuk bertanya, berlari, dan bermimpi.
Jadi, Laut, kapan pun kamu merasa ada yang “bolong” atau “kosong,” ingat ya, Nak: mungkin itu bukan kekurangan. Mungkin itu adalah jendela kecil yang memang disiapkan semesta, supaya kamu bisa melihat lebih jauh, lebih tinggi, lebih dalam.
Dengan peluk dari bawah pohon,
Ibu dan Ayahmu πΏπ
Komentar
Posting Komentar