Baik, Laut.
Duduklah sebentar dekat Ibu, meski kamu tak pernah benar-benar duduk di sini.
Ibu mau cerita soal Ibu, perempuan yang mungkin kamu, bahkan dunia, tak pernah sempat kenal utuh.
Ibu suka kopi hitam tanpa gula.
Bukan karena Ibu sok kuat, tapi karena hidup sudah cukup getir tanpa perlu dibungkus manis-manis.
Ibu suka rokok yang terbakar pelan di ujung jari, bukan supaya terlihat keren, tapi karena kadang kemarahan dan kegelisahan butuh jalan keluar.
Ibu suka membaca buku-buku yang sering bikin dada panas, tentang ketidakadilan, tentang perempuan yang dihancurkan sistem, tentang gerakan yang dilabeli “berbahaya,” tentang perlawanan kecil yang jarang ditulis sejarah.
Ibu membaca bukan untuk pamer, bukan untuk sekadar terlihat pintar, tapi karena Ibu percaya: kita harus tahu apa yang kita lawan sebelum berdiri menentangnya.
Ibu nggak suka keramaian, tapi anehnya, selalu ada di jalanan, ikut demo, berdiri di tengah suara-suara yang sering dianggap bising.
Ibu nggak teriak hanya untuk didengar, tapi karena diam adalah bentuk pengkhianatan.
Dan di ruang-ruang sidang, Ibu bicara bukan dengan suara keras, tapi dengan kata yang cukup tajam untuk membuat orang diam.
Ibu tahu, bicara itu seni, tapi mendengar adalah senjata.
Ibu mendengarkan yang tak terdengar: perempuan yang tubuhnya dipaksa tunduk, pekerja yang suaranya diremukkan, anak-anak yang tak pernah diberi ruang bermimpi.
Ibu pakai baju hitam, bukan supaya terlihat garang, tapi karena hitam itu sederhana: tidak pura-pura, tidak memohon disukai.
Ibu berjalan lebih lambat dari orang lain, bukan karena lemah, tapi karena Ibu mau lihat apa yang mereka lewati terburu-buru: siapa yang jatuh, siapa yang dilupakan, siapa yang terselip di pinggir jalan.
Ibu percaya hadir itu bentuk cinta paling sederhana, paling jujur.
Bukan hadiah, bukan janji manis, bukan ucapan manis di hari ulang tahun, tapi hadir, benar-benar hadir.
Ibu tahu, Laut, Ibu ini keras kepala.
Ibu percaya yang salah harus dilawan, bukan dimaaf-maafkan tanpa pengakuan.
Ibu percaya yang jahat harus dibongkar, bukan dipeluk supaya terlihat baik.
Ibu percaya mencintai itu bukan sekadar menyayangi, tapi juga berani melawan demi yang dicintai.
Kalau suatu hari nanti kamu ingin tahu siapa Ibu, jangan cari di foto keluarga yang penuh senyum pura-pura.
Cari di jalanan yang panas, di rapat-rapat kecil yang membicarakan perlawanan, di halaman-halaman buku yang penuh catatan miring, di meja kerja yang berantakan dengan abu rokok, secangkir kopi hitam dingin, dan lembar-lembar tulisan yang tak pernah selesai.
Di situ, Laut, ada Ibu.
Perempuan yang mungkin tak pernah kau temui, tapi selalu bicara padamu, setiap hari, di dalam hatinya sendiri.
Komentar
Posting Komentar