Tubuhku Pernah Menjadi Laut.

Ada hal-hal yang tak bisa disimpan selamanya dalam dada. Seperti laut yang tak bisa dikurung dalam botol, begitu pula rasa ini rasa kehilangan, cinta, dan hidup yang tetap bergerak meski sesuatu yang paling berharga telah pergi.

Aku membuat ruang ini bukan karena aku ingin membingkai luka. Tapi karena aku percaya, ada kekuatan dalam memberi bentuk pada yang tak lagi bisa disentuh. Ini adalah ruang bagi laut anakku, anakku yang telah mendahuluiku ke semesta. Ia tak sempat kutimang, tak sempat kusebut namanya dengan suara, hanya lewat doa dan tubuhku yang pernah menjadi rumahnya.

Di sini, aku ingin berbagi cerita. Cerita tentang harapan yang sempat tumbuh di rahimku, tentang hari-hari menanti yang diakhiri dengan kepergian yang tak terduga. Cerita tentang bagaimana rasanya mencintai seseorang yang hanya sempat hidup di antara detak jantung dan air ketuban. Cerita tentang laut yang tak jadi membasuh kaki mungil itu, tapi tetap kubawa di seluruh aliran nadiku.

Aku tahu, ini bukan cerita yang mudah dibaca. Tapi aku juga tahu, aku tidak sendiri. Ada banyak dari kita yang kehilangan sebelum sempat menyentuh. Ada banyak dari kita yang memeluk udara, tapi tetap menyebutnya anak. Di blog ini, aku akan menuliskan serpihan-serpihan itu. Tentang hari-hari setelah kehilangan. Tentang kekosongan yang tak bisa diisi, tapi bisa dijaga. Tentang bagaimana aku belajar untuk tidak menghapus rasa sakit, tapi mengajaknya tinggal dengan damai.

Mungkin suatu hari, tulisan-tulisan ini akan dibaca oleh seseorang yang butuh tahu bahwa ia tidak gila karena masih menangis, bertahun-tahun setelahnya. Atau seseorang yang sedang belajar memaafkan tubuhnya sendiri. Atau mungkin hanya aku, yang suatu hari nanti akan kembali ke sini, membaca ulang, dan melihat betapa kuatnya cinta itu tetap hidup, bahkan dalam kehilangan.

Untuk anakku, untuk laut yang tak pernah kering dalam diriku, aku mulai menulis.






Komentar

Postingan Populer