Taman

Di hadapanku ada taman bermain kecil sungguh kecil.

Rumputnya palsu, dan dari kejauhan aku bisa mencium bau plastik yang mengeras di bawah matahari.

Serodotan berwarna merah muda pucat berdiri miring, seperti hampir lelah.

Ada satu panjat-panjatan, untuk anak kecil.

Aku kira, anak seusia itu tingginya hanya sebahuku.


Dan aku diam.

Menatap anak kecil yang sedang berlari, tertawa, naik-turun dengan mudahnya.

Tertawa itu ringan sekali. Seolah dunia belum pernah mengenalkan kehilangan padanya.

Aku kangen Laut.

Anakku.

Anak yang tak sempat kupeluk sepenuhnya,

yang kini hanya tinggal dalam diam tubuhku sebagai ingatan yang tak punya suara.

Kalau saja dia tumbuh dan hidup bersamaku,

mungkin anak yang sedang bermain itu adalah dia.

Mungkin aku akan duduk di kursi taman, memegang botol minumnya,

sesekali memanggil namanya agar jangan terlalu tinggi,

agar tidak melompat sembarangan,

agar tidak jatuh.

Tapi aku di sini,

sendirian di bangku besi yang catnya mulai mengelupas.

Dan anak itu bukan Laut.

Anak itu punya ibunya sendiri,

yang berdiri tak jauh, dengan handuk kecil di tangannya,

dan cinta yang bisa disentuh.

Aku tak iri.

Aku hanya patah.

Dan patah yang kubawa ini tidak terlihat oleh siapa pun.

Bahkan aku sendiri pun kadang tidak tahu lagi di bagian mana tubuhku yang masih utuh.

Aku mengingat hari-hari saat tubuhku menjadi kapal,

mengandung Laut yang kecil dan belum tahu dunia.

Dan betapa banyak doa yang kubisikkan ke perutku sendiri.

Aku membayangkan tangannya, suaranya,

membayangkan ia memanggilku di antara ratusan hari biasa.

Tapi hidup punya rute lain.

Dan Laut tidak pernah sempat memanggilku.

Tidak dengan suara yang bisa kudengar.

Kini ia hidup dalam duniaku yang sunyi.

Dalam setiap taman bermain yang kulihat.

Dalam setiap langkah kecil anak orang lain.

Dalam setiap pagi yang terlalu hening.

Aku tidak tahu apakah luka ini akan sembuh.

Tapi aku tahu satu hal:

Laut tetap hidup,

di tubuhku,

di dadaku,

di tempat terdalam yang tidak bisa disentuh waktu.

Aku pulang hari ini dengan langkah lambat.

Karena kehilangan, seperti Laut,

selalu menunggu kita di ujung hari dalam bentuk yang baru.

Kadang sebagai taman,

kadang sebagai tawa anak kecil yang tidak tahu bahwa seseorang,

sedang belajar bertahan dengan hatinya yang tinggal separuh.





Komentar

Postingan Populer