Laut Anakku.
Namanya Laut.
Bukan karena kami mencintai pantai. Bukan karena kami sering berlibur ke pesisir. Tapi karena saat mendengar detak jantungnya untuk pertama kali, aku merasa seperti menatap samudra: luas, dalam, dan menenangkan.
Laut datang ke tubuhku seperti ombak yang tiba-tiba. Tak direncanakan, tak diminta, tapi disambut dengan rasa yang bahkan belum kutemukan namanya di antara takut, bahagia, bingung, dan percaya. Sejak hari itu, hidupku bukan lagi milikku sepenuhnya. Ada ruang baru di dadaku yang bernama anak.
Kami memanggilnya begitu, sejak ia masih berupa titik di layar hitam putih USG. Laut. Karena setiap kali ia bergerak, aku merasa seperti ada arus yang menari dalam perutku. Kadang tenang. Kadang liar. Tapi selalu indah.
Namun Laut tidak tinggal lama.
Ia datang, lalu pergi sebelum sempat melihat dunia ini.
Sebelum sempat aku peluk.
Sebelum sempat mendengar suaraku menyebut namanya di dunia yang keras ini.
Lautku hanya hidup di dalam tubuhku.
Dan ketika ia pergi, sebagian tubuhku ikut mati.
Banyak orang bilang aku kehilangan anak.
Tapi bagaimana bisa kehilangan sesuatu yang begitu lekat?
Ia ada di tiap denyut nadiku, di tiap kali aku mencium bau air asin,
di tiap malam sunyi saat aku menutup mata dan memeluk angin.
Laut tak pernah benar-benar pergi.
Ia berubah wujud menjadi kenangan.
Menjadi kekuatan.
Menjadi alasan mengapa aku hari ini lebih sabar, lebih kuat, dan lebih tahu bahwa cinta tidak butuh waktu panjang untuk tumbuh penuh.
Sekarang aku menulis, karena aku tak ingin Laut tenggelam dalam diam.
Aku menulis agar ia tetap hidup di kalimat, di cerita, di udara.
Agar orang tahu: ada seorang anak yang bernama Laut, yang pernah berenang di tubuh ibunya, yang pernah menjadi semesta kecil di antara dua manusia yang saling mencintai.
Dan jika suatu hari kamu melihatku tersenyum ke laut, jangan tanya kenapa.
Mungkin hari itu aku sedang berbicara dengan anakku.
Komentar
Posting Komentar