Di Antara Ombak yang Tak Terlihat
Hari ini, aku kembali memikirkan Laut.
Bukan laut yang bergulung di tepi dunia, tapi Laut anakku, yang tinggal selamanya di dalam tubuhku.
Jakarta mendung sejak pagi. Langit seperti beban yang tak bisa dijatuhkan atau ditahan, hanya dibiarkan menggantung di atas kepala. Aku menyalakan lampu kamar lebih cepat dari biasanya, tapi cahayanya terasa terlalu pucat untuk menghangatkan kekosongan ini. Ada ruang di dalam diriku yang tetap kosong, tak peduli seberapa keras dunia berusaha mengisinya.
Di tengah keheningan itu, aku mendengar kembali langkah-langkah kecil yang tak pernah sempat menjadi nyata.
Aku membayangkan Laut, membayangkan suaranya, tawanya yang tidak pernah sempat aku dengar.
Dan sekali lagi, aku merasa: tubuhku adalah dermaga yang selalu menunggu sesuatu yang tak akan pernah benar-benar kembali.
Aku pernah membayangkan hari-hari bersamamu, Nak.
Membayangkan membawa kamu melihat laut sungguhan mengenalkanmu pada ombak, membiarkan kakimu yang mungil berlari di pasir basah.
Tapi takdir berkata lain.
Kamu tetap menjadi bagian dari laut itu sendiri: luas, dalam, dan tak terjangkau.
Kadang aku berpikir, mungkin Laut bukan hanya anakku.
Mungkin Laut adalah seluruh semesta yang ingin kuberi nama, yang ingin kubawa pulang ke rumah.
Tapi kini aku hanya bisa memeluk sunyi, berbicara dalam diam, mencintai tanpa bisa menggendong.
Laut, kamu tetap ada.
Di udara yang kuhirup, di langit mendung yang kuintip dari jendela kecilku, di dada yang belajar menerima kosong sebagai bentuk lain dari penuh.
Hari ini aku kembali menulis tentangmu.
Bukan karena aku takut lupa, tapi karena kamu terlalu besar untuk dilupakan.
Karena di tubuhku, Laut, kamu tidak pernah pergi.
Komentar
Posting Komentar