Pensil dan Buku
Di atas meja kayu yang sudah mulai pudar warnanya, sebatang pensil dan sebuah buku tulis terbaring berdampingan.
Tak ada suara, hanya debu tipis yang menari di udara, jatuh pelan di antara keduanya.
Pensil selalu mencintai buku sejak pertama kali ia menempel di halamannya.
Setiap goresan yang ia torehkan terasa seperti sapaan kecil—kadang ragu, kadang pasti.
Buku tak pernah bicara banyak, tapi setiap kali pensil menulis, ia merasakan denyut lembut di serat kertasnya.
Begitulah cara mereka saling tahu: lewat bekas yang ditinggalkan, bukan kata-kata.
Namun hari itu, pensil berhenti menulis di tengah kalimat.
Ujungnya tumpul, tapi belum sempat diraut lagi.
Buku menunggu —halamannya tetap terbuka, seolah yakin ada lanjutan setelah tanda koma terakhir.
Tapi waktu lewat, perlahan, seperti sore yang menua tanpa pamit.
Mereka tetap di sana, berdampingan, dalam diam yang penuh kenangan.
Pensil mulai pendek, tapi ia tak menyesal.
Ia telah meninggalkan sebagian dirinya di halaman-halaman buku.
Dan buku, meski masih banyak ruang kosong di dalamnya, merasa penuh.
Sebab setiap huruf yang ada, meski belum selesai, adalah bukti bahwa mereka pernah saling menulis.
Suatu hari, angin masuk dari jendela yang terbuka.
Membalik halaman buku dengan lembut, seperti tangan yang rindu tapi tahu harus melepas.
Buku tersenyum dalam diamnya—ia tahu, cinta tidak selalu perlu diakhiri dengan titik.
Kadang cukup dengan jeda yang tenang.
Dan di antara lembar-lembar putih yang belum terisi, pensil dan buku tetap saling berdekapan, menyimpan cerita yang tak sempat selesai, tapi juga tak pernah benar-benar hilang.
Komentar
Posting Komentar