Lukisan-Lukisan Ayah dan Tulisan-Tulisan Ibu.

Kami tinggal di rumah yang sama, tapi dunia kami terpisah beberapa meter.
Kami di dinding — berjejer, penuh warna, hasil dari tangan ayah yang katanya “cuma iseng di sela kerja.”
Padahal kalau kamu lihat dari dekat, ini bukan iseng.
Ini kebebasan yang dicuri di antara tenggat waktu.
Sementara di sisi lain ruangan, di atas meja yang setengah rapi setengah kacau,
tinggal koloni tulisan-tulisan ibu — paragraf-paragraf yang lahir dari kepala yang terlalu penuh pikiran,
dan jari-jari yang tak tahu cara berhenti mengetik.
Kami sering bertengkar.
Ya, sebatas debat intelektual antar-medium, tentu saja.
Tulisan-tulisan ibu bilang kami narsis.
“Cuma pamer warna, tanpa argumen,” kata mereka suatu sore.
Kami balas: “Kalian cuma suka dengar suara sendiri.”
Mereka mendengus: “Setidaknya kami pakai tanda baca.”
Kami menimpali: “Dan tetap gagal menjelaskan kenapa langit kadang lebih biru kalau seseorang jatuh cinta.”
Begitulah kami — saling ejek tapi tak bisa berhenti saling dengar.
Kalau malam tiba, rumah jadi tenang.
Cuma suara lemari es dari dapur dan desahan kecil AC dari kamar.
Di momen seperti itu, ayah duduk di bawah kami.
Tangannya kadang masih bau cat, matanya kosong tapi damai.
Lalu di seberang ruangan, ibu mengetik dengan ritme yang lebih lambat dari biasanya.
Kadang berhenti sebentar, menatap layar, lalu tersenyum kecil
entah karena kalimatnya bagus, atau karena ayah bersiul pelan sambil melukis bayangan di udara.
Kami — lukisan dan tulisan — tahu, ini bukan sekadar rutinitas.
Ini cara mereka berdua bertahan dari dunia yang cerewet.
Ayah melawan lewat warna.
Ibu melawan lewat kata.
Dan kami, karya-karya mereka, cuma jadi bukti bahwa cinta tidak selalu harus diucapkan.
Kadang cukup digantung di dinding dan disimpan di folder “final fix beneran terakhir.”
Sebenarnya kami iri satu sama lain.
Tulisan-tulisan ibu iri karena kami bisa memikat mata orang dalam satu detik.
Kami iri karena mereka bisa hidup di kepala seseorang selamanya.
Kami cepat membuat jatuh cinta, mereka lama membuat paham.
Kami mencolok, mereka membekas.
Tapi anehnya, kami selalu ingin berada di ruangan yang sama.
Kalau kami jauh, rumah terasa sepi.
Rasanya seperti ada sesuatu yang belum lengkap—Seperti kopi tanpa roti, atau pagi tanpa gumaman pelan dari dua orang yang saling ngerti tapi malas bicara.
Pernah sekali tulisan-tulisan ibu meledek,
“Lukisan-lukisan itu kan diam. Gimana sih rasanya nggak bisa menjelaskan diri sendiri?”
Kami menjawab santai, “Nggak apa-apa. Kadang diam justru bikin orang lebih lama menatap.”
Mereka pura-pura tidak dengar, tapi kami tahu mereka tersenyum.
Karena di malam-malam berikutnya, huruf-huruf di meja mereka mulai lebih lembut,
lebih melankolis, seperti ada warna yang menetes di antaranya.
Ada hari-hari di mana ayah sibuk, dan kuasnya kering terlalu lama.
Atau saat ibu tenggelam di pekerjaan, dan tulisannya berhenti di tengah kalimat.
Kami, para karya, menunggu dengan sabar.
Kami tahu — manusia tidak selalu bisa mencipta.
Kadang mereka harus hidup dulu supaya ada yang bisa ditulis, atau dilukis.
Kami tidak marah, cuma rindu disentuh.
Tapi ketika hari itu tiba—hari ketika cat kembali menetes,
dan papan ketik kembali berbunyi cepat—
kami tahu dunia kami kembali berputar.
Warna di dinding jadi lebih cerah, dan kata-kata di meja jadi lebih berani.
Saling memantul. Saling hidupkan.
Sekarang, setelah sekian waktu bersama,
kami sadar sesuatu:
Mungkin, kami tidak benar-benar berbeda.
Lukisan ayah dan tulisan ibu—kami cuma dua cara berbeda untuk mengatakan hal yang sama:
bahwa hidup ini terlalu besar untuk disimpan sendirian.
Kami tak bisa bersatu, tapi kami saling melengkapi.
Kalau kata butuh napas, warna memberinya ruang.
Kalau warna terlalu liar, kata memberinya arah.
Jadi kalau kamu datang ke rumah ini dan melihat kami di dua sisi ruangan,
jangan kira kami diam.
Kami sedang bicara—tentang cinta, kerja, letih, dan tawa kecil yang lahir di antara dua orang
yang mencintai dunia dengan cara berbeda.
Kami cuma dua karya,
tapi kami tahu satu hal dengan pasti:
kalau ayah dan ibu berhenti mencipta,
maka rumah ini akan kehilangan denyutnya.
Komentar
Posting Komentar