Laut, kini giliran Yaya yang ingin ibu ceritakan padamu
Laut,
di antara kucing-kucing yang pernah hadir dalam hidup ibu, ada satu yang begitu manis dan penuh kelembutan. Namanya Yaya. Tapi sering kali ibu memanggilnya dengan sapaan paling sayang: Ayang.
Yaya adalah kucing berbulu hitam dan putih. Polanya seperti lukisan yang sederhana tapi selalu menenangkan mata. Dia lembut. Tenang. Tidak rewel.
Dia bisa berteman dengan siapa saja. Tak pernah merasa terganggu jika ada kucing baru di rumah malah jadi kakak yang hangat dan menerima.
Untuk Tofu, Yaya adalah kakak.
Untuk Sese, Kevin, bahkan Copi, Yaya adalah pelindung.
Dia tak pernah menggigit, tak pernah mengganggu, tak pernah mengeluh.
Hobinya sederhana: tidur.
Tapi bukan tidur asal tidur. Yaya suka sekali tidur di samping ibu, apalagi saat ibu sedang membaca. Entah mengapa, seolah ia tahu bahwa kehadirannya membuat segalanya terasa lebih damai.
Dan soal makan?
Yaya sangat konsisten. Dia tidak tertarik sedikit pun dengan makanan manusia.
Tidak pernah mencolek nasi, tidak mencium aroma ayam goreng, apalagi mencicipi brokoli seperti Sese.
Baginya, hanya dry food, snack kucing, dan catfood kesukaannya.
Seolah dia tahu batasnya. Dan tahu persis apa yang dia butuhkan.
Yaya adalah anak yang baik.
Salah satu yang terbaik.
Dan seperti banyak yang ibu cintai… Yaya juga sudah kembali pada Sang Pencipta.
Kepergiannya membuat hati ibu patah. Lagi.
Rasanya seperti retakan yang belum sempat sembuh, kemudian disayat lagi. Tapi, ibu tahu… Yaya juga tahu betapa dia dicintai. Betapa setiap tidurnya selalu ditunggu. Setiap dengkurnya menjadi musik di sore yang sepi.
Kini Yaya sudah damai.
Mungkin sedang tidur di pangkuan cahaya, di tempat yang hangat dan sunyi.
Dan suatu hari nanti, Laut,
kita akan bertemu lagi dengannya dan semua yang pernah kita cintai,
dalam rumah yang benar-benar layak disebut rumah.
Komentar
Posting Komentar