Laut, dengar ya, ini cerita tentang Dumbo

Laut,

hari ini aku ingin bercerita tentang Dumbo. Seekor kucing jantan, besar, tua, dan tampak seperti jagoan veteran dari jalanan. Kucing kampus. Yang awalnya liar, keras, dan mandiri tapi diam-diam, menyimpan kelembutan yang cuma bisa dilihat kalau kita benar-benar memperhatikannya.


Waktu itu aku masih kuliah. Ayahmu yang saat itu belum jadi suamiku, masih pacar sering datang menjemputku. Kami punya kebiasaan kecil yang jadi kesayangan kami: keliling kampus, membawa makanan, dan memberi makan kucing-kucing yang tinggal di sana. Kami tak tahu nama mereka, tapi pelan-pelan mulai mengenal wajah dan perilakunya. Salah satunya: Dumbo.


Dumbo beda. Badannya besar, jalannya santai tapi penuh wibawa, dan seolah semua sudut kampus adalah wilayah kekuasaannya. Tapi suatu hari, semuanya berubah.

Kami menemukannya duduk lemah di bawah pohon. Tidak bergerak. Nafasnya berat. Matanya sayu.


Aku langsung panik. Rasanya seperti melihat teman yang tiba-tiba tumbang. Aku minta ayahmu untuk segera membawa kami ke dokter hewan. Tanpa pikir panjang, kami pergi.


Di sana, dokter memeriksa Dumbo. Mengusap kepalanya pelan. Lalu berkata sambil tersenyum kecil, “Dia ini masih semangat banget hidupnya.”

Ada harapan. Itu cukup untuk membuatku ingin memperjuangkannya.


Kami belikan obat. Kami suapi makanan basah. Dan di tengah ruangan kecil itu, aku dan ayahmu membuat keputusan tanpa banyak bicara: kami akan merawat Dumbo.


Kata satpam kampus, Dumbo suka makan bakwan goreng. Ya, Laut. Bakwan. Isinya sayur. Untuk kucing, itu aneh. Tapi Dumbo memang tidak biasa.

Dia tua, keras kepala, dan selera makannya seperti manusia.


Setelah dari dokter, kami membawanya ke kos ayahmu. Kamar kecil, tapi cukup untuk jadi rumah. Kami siapkan tempat tidur kecil, makanan, dan tentu saja banyak kasih sayang. Mungkin Dumbo tidak tahu, tapi hari itu kami menyelamatkannya. Atau mungkin, dia justru yang menyelamatkan kami.


Dumbo tidak lama bersama kami. Sebelum aku dan ayahmu menikah, dia sudah pergi. Tapi jejaknya masih ada di tawa kami waktu melihat dia ngiler makan ayam, di panikku saat dia demam, dan di cara kami belajar menyayangi tanpa syarat.


Kalau nanti kamu bertemu Dumbo di sana, peluk dia, ya. Bilang padanya bahwa kami tidak pernah lupa. Bahwa kami pernah memilihnya meski tua, sakit, dan rewel. Dan bahwa ia pernah punya rumah. 

Sekecil apa pun itu.


Komentar